Sour Seventeen

Lovaerina
Chapter #19

Bab 18 - Luka Pura-Pura

“Gue anter lo pulang.”

Nadia menoleh ke arah pintu UKS, Gamal muncul dengan menyangklong dua tas di bahu kiri dan kanan. Satu milik Aidan dan satu milik Gamal sendiri. 

Pak Burhan sudah melakukan pertolongan pertama pada kaki Nadia yang sebenarnya tidak cedera. Rasa malu membuat Nadia menangis kencang dan mungkin setelah ini pandangan teman-teman Aidan akan berbeda padanya. Entah bagaimana Nadia akan menjelaskan pada saudara kembarnya itu. 

Selain menutupi malu, Nadia juga jadi punya alasan untuk mangkir dari latihan selama beberapa hari. Pak Burhan yang menyuruhnya beristirahat dan teman-teman menyetujui agar dia segera pulih.

“Bisa jalan, kan? Apa mau gue gendong lagi?” tanya Gamal sambil memindahkan kedua tas ke depan dada, supaya punggungnya bisa untuk menggendong. 

Nadia berpikir sejenak, mempertimbangkan mana yang lebih mudah antara berpura-pura pincang atau menghadapi jantungnya berdegup kencang. 

“Jalan sendiri aja,” timpal Nadia, tidak mau Gamal curiga pada dirinya yang salah tingkah. 

Gamal mengangguk setuju, tetapi dengan sigap memapah Nadia. Mata bulat Nadia sontak membelalak kaget. Jantungnya kembali berulah. 

“Pelan-pelan aja jalannya,” ucap Gamal mengingatkan. 

Nadia jadi lupa caranya berakting pincang. Dia berpikir sejenak, mengingat-ingat kaki kanan atau kaki kiri yang harus diseret agar kelihatan terluka sungguhan. 

Gamal menoleh, wajahnya terlalu dekat. Embusan napasnya bahkan menerpa wajah Nadia. 

“Susah ya jalannya?” Gamal bertanya lagi karena Nadia diam saja, “gue gendong aja, deh.”

“Nggak. Nggak. Bisa kok. Gue bisa jalan sendiri,” tolak Nadia gugup, dengan cepat melepaskan rangkulan Gamal, dan berjalan mendahuluinya. Tentu dengan berlagak pincang.

Gamal segera berjalan menjejeri Nadia, memperhatikan langkahnya yang terseok-seok.

“Lo nggak bawa motor, kan?” Pertanyaan Gamal dijawab dengan gelengan. “Kalau gitu lo nunggu di lobi aja, biar nggak kejauhan. Gue ambil motor.”

Nadia setuju. Mereka berbelok ke kanan, menuju lobi. Dia lalu duduk di bangku beton, menunggu Gamal mengambil motornya. 

Tidak butuh waktu lama, Gamal dan kuda besinya menghampiri Nadia. Cowok itu memakai helm berwarna kuning terang. Gamal memang suka menjadi pusat perhatian. 

“Bisa naik sendiri, nggak?”

Nadia mengangguk tanpa suara. Repot juga kalau sampai Gamal membantunya duduk di boncengan motor itu. 

“Pegangan, Dan,” instruksi Gamal, bersiap melajukan motornya. 

Nadia spontan memeluk pinggang Gamal dan menyandarkan kepala di punggungnya. 

“Nggak usah lebay, Aidan! Munduran!” Hardikan Gamal membuat Nadia refleks mundur dan berpindah tangan, memegang besi di pinggiran jok. 

Jalanan tidak begitu padat meski banyak kendaraan lalu lalang. Gamal tidak perlu menyalip ke kanan kiri. Belum ada kemacetan seperti di pagi dan sore hari saat para pekerja berangkat dan pulang. Mereka sampai di rumah Aidan dalam hitungan menit. Gamal segera mematikan mesin motor dan Nadia melompat turun. 

Gamal sigap turun juga, berniat membantu Nadia memasuki rumah. Namun, Nadia menolak. 

Mobil Papa ada di garasi. Artinya Papa sudah pulang. Kalau Nadia tetap berpura-pura pincang di depan Papa, masalahnya akan semakin rumit. Bisa-bisa Papa melarangnya latihan lagi. 

“Lo pulang aja, Mal. Gue bisa masuk sendiri,” ujar Nadia sambil meraih tas yang masih tersampir di depan dada Gamal. 

Lihat selengkapnya