Sour Seventeen

Lovaerina
Chapter #20

Bab 19 - Masalah Fida

Aidan adalah satu-satunya murid yang terlihat santai saat mendengar guru matematika mengadakan tes singkat dadakan sebelum mengakhiri kelas. Seluruh murid di kelas langsung mengeluh Beberapa sempat menyuarakan protes dengan keras. Sayangnya percuma saja. Guru perempuan berambut bob sebahu itu tidak mengurungkan niatnya. 

Dari mejanya di bagian depan, di sebelah kanan papan tulis berwarna putih mengkilap yang biasa ditulisi dengan spidol hitam atau biru, guru itu membacakan soal. Setiap soal mendapatkan nilai sepuluh poin. Murid yang berhasil menjawab seluruh soal dengan benar akan dibebaskan dari tugas tambahan.

Tekanan semakin terasa menyiksa saat guru itu memberikan waktu pengerjaan yang sangat singkat. Jika melewati batas waktu, poinnya dikurangi 25 persen dari total yang didapatkan. 

Aidan dalam wujud Nadia, menjadi murid pertama yang maju, menghampiri meja guru dengan membawa lembar jawaban sebelum waktu berakhir. Sontak saja seluruh kelas ribut mencibir. Tindakan Aidan itu membuat nyali mereka kocar-kacir. 

“Udah diisi semua, Nadia?” tanya guru perempuan itu. 

Aidan mengangguk. “Sudah, Bu.”

Guru itu mempersilakan Aidan kembali ke mejanya. Aidan sempat melirik Fida yang ternyata sedang menatapnya. Bibirnya mengerucut maju. Aidan menduga Fida masih marah. 

Baru dua menit Aidan duduk, guru berseru dan membuat para murid menaruh atensi penuh. 

“Wah! Jawaban Nadia benar semua. Good job, Nadia!” 

Aidan tersenyum tipis. Sepuluh soal tadi masih cukup mudah baginya. Sementara itu, murid-murid ramai bukan hanya mengeluhkan soal, melainkan meragukan Nadia. Aidan tidak tahu saja kalau biasanya Nadia mengumpulkan jawaban paling akhir dan mendapatkan nilai kecil. 

“Jadi, lo beneran ninggalin Fida demi temenan sama Hanna yang pinter itu? Kok lo gitu, Nad?” tanya teman sebangku Aidan–yang bertukar tempat dengan Fida–setelah menyerahkan lembar jawaban. 

“Maksudnya gimana?” Aidan terheran. 

“Pantesan aja sekarang lo jarang bareng Fida lagi. Fida jadi sering mojok sendirian di kantin. Gue kalau jadi dia juga sedih, sih.”

Aidan tidak menanggapi celotehannya. Dia menoleh ke belakang, ke arah Fida. Cewek itu terlihat sedang sibuk mencoret-coret kertasnya dengan wajah murung. Aidan tidak tahu harus bagaimana untuk menghadapi cewek yang merajuk seperti itu. 

Hari ini, Aidan harus meminta maaf pada Fida dan menyelesaikan semua kesalahpahaman ini. Kedekatan Aidan dengan Hanna sama sekali bukan karena ada maksud tertentu. Lagi pula, setelah Hanna mengatakan kalau Nadia yang tiba-tiba memilih menjauh, Aidan jadi ragu mendekatinya lagi. 

Nadia pasti punya alasan kenapa dia tidak berteman lagi dengan Hanna. Sebelum bertukar jiwa, teman dekat Nadia adalah Fida. Aidan harus memperbaiki semua kekacauan ini. 

Bel istirahat meraung-raung, disambut desah kecewa beberapa murid yang belum menyelesaikan tugas. Mau tidak mau, mereka harus mengerjakan PR dari guru. 

Satu per satu murid mulai meninggalkan kelas, termasuk Fida. Diam-diam Aidan mengikutinya menuju kantin. Dia sengaja menjaga jarak agar Fida tidak menyadari sedang diikuti. 

Kantin di SMA Guna Bangsa tidak jauh berbeda dari kantin SMA Budi Dharma. Ruangannya mirip aula luas, dengan beberapa meja panjang dan bangku-bangku panjang tanpa sandaran. Bedanya, bangku di sini tidak bisa digeser sembarangan. 

Terdapat beberapa stan makanan, aneka ragam. Mulai dari makanan ringan, hingga makanan berat. Para murid bebas memilih sesuai selera dan uang saku yang dimiliki. Sebagian guru ada juga yang menikmati makan di sana, bergerombol dengan sesama guru atau para murid.

Aidan mengamati Fida yang sedang memesan bakso. Dia menunggu waktu yang tepat untuk mendekat. Fida tampak menuju bangku paling pojok, membawa semangkuk baksonya. Aidan akan mendekat, tetapi tiba-tiba dikejutkan oleh kemunculan Jerry. 

“Hai, Nad!” sapa Jerry, melambaikan tangan kanan tepat di hadapan Aidan. Senyumnya begitu lebar seperti biasa. 

Aidan mendengkus. Jerry benar-benar seperti tukang parkir di depan swalayan. Kemunculannya tidak bisa diprediksi. 

“Makan bareng, yuk!” ajak Jerry bersemangat. Ribuan penolakan dari Aidan sepertinya tidak ada yang mempan. 

Lihat selengkapnya