Sour Seventeen

Lovaerina
Chapter #21

Bab 20 - Ditembak

Kemunculan Gamal tidak diantisipasi oleh Nadia dan Aidan. Seharusnya mereka sudah memprediksi karena lokasi pertemuan yang masih di wilayah SMA Budi Dharma. Bukan hanya Gamal yang bisa memergoki, teman-teman lain pun mungkin saja.

Nadia dan Aidan sama-sama membisu, menunggu reaksi Gamal lebih dulu. Kalau salah berbicara atau bertindak, bisa mengacaukan segalanya. Nadia dan Aidan belum siap mengakui kepada siapa pun bahwa saat ini jiwa mereka berdua sedang tertukar. Mereka tidak mau dianggap halu karena apa yang dialami memang di luar akal sehat.

Gamal melirik Nadia dan Aidan bergantian. “Gue cari ke mana-mana, taunya lagi asyik pacaran.”

“Bukan pacar gue!” elak Nadia cepat. 

Gamal mengabaikannya dan mengulurkan tangan kanan pada cewek yang tidak lain adalah Aidan–dalam tubuh Nadia. 

“Hai, gue Gamal, teman sebangku Aidan.” Kalimat itu ditutup dengan senyuman khas Gamal yang membuat kedua matanya tenggelam. 

Aidan menyambut uluran tangan Gamal, bertingkah seolah mereka baru pertama kali bertemu. Aidan tampak gugup, takut ketahuan. Itu justru menghadirkan kesan natural karena mereka belum pernah bertemu. 

Setelah bersalaman, Gamal duduk bersebelahan dengan Nadia tanpa diminta. Dia tidak merasa mengganggu Nadia dan Aidan sedikit pun. Obrolan mereka berdua terpaksa dihentikan. 

“Kok jadi diem-dieman gini, sih? Ngobrol dong. Aku nggak ganggu, kok. Lagi pengen istirahat aja, capek abis latihan bola,” celetuk Gamal karena Nadia dan Aidan tak ada yang bicara. 

“Kamu latihan bola?” Aidan yang bertanya. 

Gamal yang melihatnya sebagai Nadia, kaget mendengar pertanyaan Aidan. Mereka baru pertama bertemu, kenapa perhatian sekali? 

“Iya. Nih, gara-gara si Kutu Kupret,” cibir Gamal, melirik sosok cowok di sebelahnya. 

Nadia tersenyum canggung, telunjuk kanannya mulai bermain-main di sekitar poni. Kebiasaan kalau sedang gugup. Dia tidak mengatakan soal kekacauan di klub sepak bola pada Aidan. 

“Ada apa memangnya?” Aidan bertanya lagi, tatapannya begitu serius tertuju pada Nadia. 

“Payah banget main bolanya. Padahal sebelumnya jago. Udah gitu, kakinya lagi sakit,” imbuh Gamal tanpa bisa dihentikan oleh Nadia. 

Sepertinya hari ini semua kekacauan yang diperbuat Nadia akan terbongkar di hadapan Aidan. Gara-gara Gamal.

“Kaki kamu kenapa?” Aidan tentu mencemaskan kakinya. Itu aset berharga demi kelangsungan hobinya bermain sepak bola. 

“Pincang,” timpal Gamal enteng, membuat Nadia mendelik tajam, “kayaknya perlu diamputasi, terus diganti pakai besi.”

Nadia ingin sekali menyumpal mulut Gamal dengan sepiring gorengan panas ditambah sejumput cabai. 

“Serius?” Aidan semakin panik. 

Nadia menggeleng keras. Sayangnya, tidak bisa memberi tahu kebenarannya sekarang. Itu sama saja membongkar sandiwaranya di depan Gamal. 

“Cieee… segitu paniknya sama Ayang,” cibir Gamal. 

“Si Gamal nggak usah didengerin. Bohong dia.” Nadia mengelak dari cibiran Gamal dan masih mendelik tajam ke arahnya.

Lihat selengkapnya