Nadia menggosok rambut pendek Aidan dengan handuk. Wangi mentol menguar dari rambut hitam yang masih basah itu. Dia mulai terbiasa dengan aroma khas Aidan yang manly. Padahal selama ini peralatan mandinya selalu beraroma manis.
Memiliki rambut pendek ada untungnya juga. Nadia bisa menyisirnya hanya dengan jari dan tidak menyangkut di tengah-tengah seperti saat berambut panjang. Meski begitu, Nadia tetap rindu rambut indahnya.
“Gimana caranya gue sama Aidan bisa balik lagi? Ini udah kelamaan,” gumam Nadia.
Otaknya buntu mencari jalan keluar, tetapi harapan Nadia kembali ke tubuhnya masih tetap besar. Entah kekacauan apa lagi yang akan terjadi kalau dia dan kembarannya tetap bertukar jiwa seperti ini. Nadia ngeri membayangkannya.
Tiba-tiba, senyum misterius nenek di seberang jalan membayang di benak Nadia. Dia merasa yakin pernah melihatnya sebelum sore ini. Entah kapan dan di mana.
“Pernah ketemu di mana, ya?” Nadia berusaha keras mengingatnya.
Kuku-kuku di tangan kanan jadi pelampiasan selagi Nadia berpikir. Sekuat tenaga dia menggali semua ingatannya. Melewati setiap jengkal memori baru-baru ini, terutama sebelum tanggal 12 April demi mencari sosok nenek itu.
Nadia mengempas badan. Punggungnya lansgung menyentuh kasur yang empuk. Tatapannya tertuju pada langit-langit kamar. Kosong. Berbanding terbalik dengan pikirannya yang penuh sesak seperti tempat wisata di musim liburan. Semua hal berjubel, sampai-sampai kepala Nadia berdenyut, pening.
Memejamkan mata tidak membuat rasa penat berkurang sama sekali. Nadia merindukan hari-harinya di SMA Guna Bangsa. Rindu Fida dan teman-teman lainnya. Orang terakhir yang bersamanya selain Mbak, sebelum tanggal 12 April adalah Jerry. Kalau tidak salah menebak, Nadia pikir Jerry sedang berusaha mendekatinya. Bagaimana kabar cowok itu sekarang?
“Nggak mungkin Aidan mau jadian sama Jerry, kan?”
Nadia menggeleng keras, mengusir pikiran gilanya barusan. Mungkin saja Jerry masih melakukan pendekatan padanya. Namun, mustahil Aidan mau menanggapi cowok itu.
“Gue ingat!” Nadia spontan bangkit dari posisi berbaringnya. “Nenek itu yang kasih cokelat.”
Beberapa hari sebelum 12 April, tepatnya tanggal sembilan, Nadia membantu nenek itu menyeberang jalan. Baju yang dikenakan sama persis. Senyum perempuan renta itu juga tidak berubah.
“Ternyata cuma orang random. Nggak ada hubungannya sama gue,” pikir Nadia.
Paling tidak, rasa penasaran Nadia tentang nenek itu akhirnya terjawab. Mungkin nenek itu warga sekitar yang memang terbiasa melakukan aktivitas di sana.
“Nggak, deh. Waktu itu gue lagi main di rumah Fida.” Nadia kembali terusik.
Jarak rumah Fida dari sini lumayan jauh. Bagaimana bisa seorang nenek berkeliaran di jalan sendirian? Nenek itu tidak terlihat seperti gelandangan atau seseorang yang hidup tanpa sanak saudara.
Nadia menggigit kuku-kuku di jarinya. Matanya memicing dengan dahi berkerut dalam. Dia seperti sedang mengumpulkan kepingan puzzle. Dia yakin nenek itu bukan sekadar orang random yang tiba-tiba muncul di hidupnya. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua hal terjadi karena adanya sebab yang berujung akibat. Termasuk kemunculan nenek itu.
“Cokelatnya!” pekik Nadia sambil menjentikkan jemari kanan.