Nadia menggigit kuku jemarinya dengan gusar. Dia sedang menunggu kedatangan Aidan. Kebetulan tidak ada orang di rumah. Papa keluar entah ke mana, sedangkan Budhe ke pasar.
Hari Minggu ini seharusnya Nadia ada latihan bola di sekolah. Namun, dia perlu menyelesaikan permasalahannya. Jadi, dia memilih absen dengan alasan kurang enak badan. Anggota tim yang lain pun tidak ada yang keberatan. Singkatnya, mereka mungkin sudah tidak peduli.
Sebuah notifikasi pesan masuk dari Aidan menyentak Nadia. Dia bergegas keluar rumah dan menemui kembarannya yang baru saja turun dari ojek online.
Aidan tertergun sesaat. Ini adalah pertama kalinya dia kembali ke rumah setelah bertukar raga dengan Nadia. Meski rumah itu selalu diisi kehampaan, ternyata dia tetap merindukannya.
“Masuk, Ai,” ujar Nadia menjemput angan Aidan dari rasa rindu yang membelenggu.
Aidan melangkah, melewati pintu garasi yang segera ditutup kembali oleh Nadia. Keduanya memasuki ruang tamu dan duduk di sofa yang membentuk huruf L.
“Kamu yakin cokelat itu yang bikin kita kayak gini?” tanya Aidan tanpa basa-basi.
Nadia langsung mengangguk. Tidak ada keraguan sedikit pun yang tersirat dari sorot matanya. Dia yakin seratus persen bahwa cokelat itu adalah titik awal pertukaran raga mereka.
“Gimana ceritanya?” Aidan penasaran sekali meski Nadia sudah menjelaskannya sekilas melalui telepon kemarin.
“Jadi gini…” Nadia mengawali cerita, Aidan menyimaknya dengan saksama, “beberapa hari sebelum ultah kita, gue bantuin nenek-nenek nyeberang jalan, terus dikasih cokelat. Gue baru makan cokelat itu di malam ultah kita, sebelum tidur.”
Aidan serius sekali mendengarkan cerita Nadia. Dia sesekali menggaruk alisnya sambil manggut-manggut.
“Gue waktu itu…” Nadia menjeda ucapannya sejenak, sedikit ragu melanjutkan.
Aidan mengernyit dan bertanya dengan penuh kewaspadaan. “Waktu itu kamu kenapa?”
Nadia tidak langsung menjawab, masih ragu. Hingga akhirnya dia menarik napas dalam-dalam.
“Lo tau sendiri kan gimana Mama di rumah?” Nadia yakin Aidan memahami maksud pertanyaannya. “Mama sedingin itu ke gue. Gue kayak hidup sendirian di dunia ini,” ungkap Nadia, ada nyeri yang bersarang di ulu hati.
Tatapan Aidan menjadi iba pada Nadia. Dia merasakannya. Sejak tinggal di rumah Nadia, Aidan jarang sekali bisa bertatap muka dengan Mama. Berbeda saat tinggal bersama Papa, mereka masih bertemu tiap hari meski tidak akur juga.
“Mama bahkan nggak pernah ucapin selamat ulang tahun ke gue. Nggak tau salah gue di mana sampai Mama kayak anggap gue nggak ada.” Raut wajah Nadia menjadi sendu.
Aidan merasakannya. Sedih. Kecewa. Hampa. Ditinggalkan. Sendirian. Semua yang ada di hati Nadia, Aidan merasakannya juga. Padahal selama ini dia berpikir hidup Nadia bersama Mama baik-baik saja.
“Gue makan cokelat itu sambil nangis. Gue berharap kita bisa tukeran tempat. Gue mau tinggal sama Papa aja.” Nadia mengungkap harapannya yang selama ini dipendam sendirian.
Hening menjeda beberapa saat, sampai Aidan mengakui keinginan yang tidak berbeda.
“Aku juga pengin tinggal sama Mama, bareng kamu,” timpal Aidan jujur.
Nadia tersenyum. Getirnya terlihat meski dia berusaha menyembunyikan sebaik mungkin.
“Gue pikir lo bahagia sama Papa, Ai. Ternyata kita senasib,” ucap Nadia, diakhiri senyuman yang masih menyimpan kegetiran.
Aidan ikut menyimpul senyum. Tidak kalah getir. Mereka berdua hanyalah korban dari perpisahan Mama dan Papa. Mereka tidak tahu apa-apa. Keadaan ini tidak pernah mereka inginkan, tetapi mustahil menghindarinya.
“Terus, kenapa kamu yakin soal cokelat itu? Bisa aja kan itu cuma cokelat biasa? Wajar sih, nenek itu berterima kasih karena udah kamu bantu.”