Sour Seventeen

Lovaerina
Chapter #25

Bab 24 - Buntu Berujung Damai

Pencarian Nadia dan Aidan tidak membuahkan hasil. Setelah menunggu berjam-jam dan mencari di sekitar lokasi pertemuan pertama Nadia dengan nenek itu, mereka menyerah juga.

Tidak ada jalan lain yang terpikir di benak Nadia selain cokelat bertuliskan “Hope” itu. Dia yakin hanya itu jalan satu-satunya. Namun, tidak tahu ke mana mereka harus mencari. 

Selain mencari nenek itu, mereka juga mendatangi beberapa toko yang untuk menemukan cokelat dengan merek yang sama. Bahkan, Nadia sudah mencari di toko-toko daring. Hasilnya sia-sia saja.

“Ai, maafin gue ya,” ucap Nadia lirih, tenaganya menguap setelah seharian mencari ke sana kemari.

“Nggak apa-apa, Nad. Kita masih bisa cari cara lain,” timpal Aidan, berusaha tetap tenang.

Nadia menggeleng. Pasrah. Tidak ada jalan lain.

“Seharusnya gue nggak berharap aneh-aneh. Kalau gue menerima kenyataan, kita nggak perlu mengalami hal kayak gini.” Nadia menyadari ini semua adalah akibat dari harapannya bertukar tempat dengan Aidan meski bukan seperti ini yang diharapkan.

“Nad, kamu nggak salah.” Aidan mengusap-usap bahu saudaranya. “Aku juga sering berharap kayak gitu, kok. Aku pengin tinggal sama Mama. Mungkin ini memang satu-satunya cara buat mewujudkan harapan kita.”

Kalau tidak bertukar raga seperti ini, Aidan sepertinya belum memiliki keberanian menemui Nadia. Boro-boro meminta bertukar tempat, mengunjunginya di rumah saja Aidan tidak bernyali.

Nadia tidak menimpali lagi. Penyesalan yang teramat besar menggulungnya dalam kekalutan. Dia hanya bisa menyalahkan diri sendiri. Menyalahkan harapan yang saat ini terdengar sangat konyol. Hingga terwujud dalam keadaan yang tidak masuk akal. 

Aidan menarik Nadia ke dalam pelukan. Berharap itu akan mampu membuat Nadia lebih tenang. Nyatanya tangisan Nadia justru pecah. Air matanya membanjiri kaus yang Nadia kenakan.

“Nad, pelan-pelan ya nangisnya. Nggak enak kalau ada yang dengar,” bisik Aidan.

Saat ini yang terlihat adalah seorang cowok sedang meraung-raung di pelukan cewek. Mungkin orang-orang berpikir Nadia dan Aidan adalah pasangan kekasih yang baru saja bertengkar dan sedang mengucapkan salam perpisahan dengan cara paling dramatis. 

Aidan malu kalau sampai ada yang mengenalinya dan melihat adegan ini. 


***


Berdamai dengan keadaan.

Nadia dan Aidan sepakat melakukan itu. Mereka pikir sebaiknya menggunakan waktu agar lebih dekat dengan Papa dan Mama sesuai harapan terpendam masing-masing, daripada terus menerus merutuk nasib. Mungkin saja Tuhan akan berbaik hati dengan kembali menukar takdir mereka seperti sedia kala.

Pagi ini Aidan sudah mengenakan pakaian olahraga. Dia melapisi dengan hoodie agar bagian dadanya tidak terlalu terekspos. Dia lalu menunggu Mama keluar dari kamar. Kalau sesuai jadwal rutin, Mama hari ini harusnya ke tempat gym.

Tidak butuh waktu lama bagi Aidan menunggu. Pintu kamar Mama terbuka dan perempuan itu muncul menenteng tas hitam yang sepertinya berisi baju ganti serta peralatan olahraga.

“Pagi, Ma,” sapa Aidan, tersenyum canggung.

“Ada apa, Nad? Kok tumben kamu bangun pagi dan pakai baju begini?” tanya Mama.

Lihat selengkapnya