Beberapa hari terakhir, Nadia lebih ekstra memperhatikan jalanan. Siapa tahu dia bisa bertemu dengan nenek itu lagi. Sayang sekali, sampai detik ini, Nadia belum berhasil melihatnya. Nenek itu seperti menghilang dari muka bumi.
“Belakangan ini lo kelihatan lesu banget. Ada masalah, Dan?” Gamal yang baru saja kembali dari toilet, langsung memperhatikan raut wajah teman sebangkunya dengan serius.
‘Banyak.’ Nadia hanya mampu mengucapkan itu dalam hati.
Masalah Nadia terus bertumpuk-tumpuk sejak pertukaran raganya dengan Aidan. Tidak ada kemudahan yang menghampirinya. Semua serba menyulitkan.
“Soal bola?” tebak Gamal. “Anak-anak lagi pada fokus sama latihan. Kadang kalau udah pada capek, memang jadi rese.”
Nadia menghela. Bukan itu saja masalahnya. Andai saja dia dapat mengatakan semua pada Gamal, mungkin beban di hatinya bisa berkurang.
“Kalau soal rumor kita, cuekin aja. Nanti juga pada capek sendiri. Lagian kita bisa apa? Klarifikasi? Percuma.” Gamal terus bicara meski Nadia diam saja. “Nggak akan ada yang peduli sama omongan kita, Dan. Mereka lebih percaya sama asumsi masing-masing.”
Nadia setuju dengan Gamal. Membela diri akan percuma ketika orang-orang sudah memilih percaya pada pendapat sendiri meski itu sebuah kekeliruan. Mereka tidak peduli. Mereka hanya percaya apa yang ingin dipercayai.
“Satu-satunya cara ya buktikan aja kalau kita memang sukanya sama cewek,” imbuh Gamal dengan enteng.
Entah mengapa Gamal tidak terusik sedikit pun dengan berita itu.
Masalahnya, kalau pertukaran jiwa Nadia dan Aidan tidak memiliki solusi untuk kembali. Kemungkinan ini akan bertahan selamanya. Aidan memang tidak mencintai Gamal, tetapi Nadia menyukainya bukan sebagai teman. Menyedihkan sekali kalau perasaan itu harus dipendam selamanya.
“Lo nggak sendiri, Dan.” Gamal menepuk bahu Nadia. “Ada gue!”
Andai bukan di raga Aidan, Nadia ingin sekali memeluk cowok di sebelahnya ini.
***
Sama seperti Aidan, Nadia berusaha menerima keadaan meski sangat sulit dilakukan. Dia mencoba memanfaatkan waktu yang dimiliki agar bisa lebih dekat dengan Papa.
Pertandingan sepakbola akan berlangsung dua minggu lagi. Sebelum itu, dia ingin menghabiskan banyak waktu dengan Papa sebagai Nadia sendiri. Entah nantinya dia akan bertukar jiwa lagi dengan Aidan atau tidak.
“Pa, kapan kita ke Surabaya?” tanya Nadia, lalu menarik kursi di sebelah Papa dan duduk di sana. Nadia bisa melihat alis kiri Papa berjengit. Papa melepas kacamatanya dan menatap Nadia dengan intens.
“Kita?” Papa memastikan. “Kamu beneran mau ikut?”