Sour Seventeen

Lovaerina
Chapter #27

Bab 26 - Hari Pertandingan

Hari yang dinanti tiba. Pertandingan sepak bola antara SMA Guna Bangsa dan SMA Budhi Dharma. Para guru dan siswa dari kedua SMA tersebut memenuhi gelanggang olahraga kota. Sebelum pertandingan dimulai, Aidan menyelinap ke tenda SMA Budhi Dharma untuk menemui Nadia.

Aidan berhadapan dengan Nadia. Dia tertegun melihat dirinya sendiri dalam balutan seragam olahraga yang dirancang khusus untuk tim sepakbola. Aidan sudah menantikan hari ini sejak lama. Sayang sekali, keadan tidak berpihak kepadanya. Nadia yang harus bertanding menggantikan dirinya.

Nadia terlihat gugup, terus menggigiti kuku jempolnya, sesekali merapikan poni yang sudah rata. Aidan masih hafal tabiat saudara kembarnya itu. Dia segera meraih tangan Nadia, berusaha menenangkannya.

“Nad, aku tau ini nggak gampang. Ini berat buat kamu. Aku nggak akan memaksa kamu ikut pertandingan ini,” ujar Aidan. 

Bola adalah kegemaran Aidan, bukan Nadia. Aidan tidak ingin membuat Nadia terluka lagi karena melakukan sesuatu yang tidak disukainya. Nadia tidak perlu melanjutkan ini semua. Apalagi ketika nantinya ternyata mereka tidak bisa kembali bertukar raga.

Nadia tersenyum tipis, melepaskan pergelangan tangannya dari genggaman Aidan. “Ai, gue memang nggak jago kayak lo. Tapi, gue nggak secemen itu buat langsung menyerah. Lagian gue udah ikut latihan, kok. Kalau gue tiba-tiba mundur sebelum pertandingan, payah banget dong.”

Nadia masih sama seperti yang Aidan kenal delapan tahun lalu. Saat sudah bertekad, dia pantang mundur. 

“Gue mungkin nggak bisa bawa kemenangan buat tim lo, tapi masih ada Gamal sama anggota tim lainnya. Gue nggak mau mereka kecewa dan benci sama lo, Ai,” imbuh Nadia.

Aidan kehilangan kosakata, tidak mampu menimpali ucapan Nadia. Kedua matanya berkaca-kaca.

“Terima kasih, Nad.” Aidan menarik Nadia ke dalam pelukan. Dia mengusap-usap punggungnya, berharap itu mampu mengurangi kegugupan yang mendera.

“Dan… ups!”

Pelukan Nadia dan Aidan langsung terurai. Mereka menoleh pada Gamal yang menutup mata dengan tangan kanan.

“Sori, ganggu. Anggap aja gue nggak lihat,” ujar Gamal. “Gue cuna mau kasih tahu, lima menit lagi kita mulai tanding,” imbuhnya.

“Aku pergi, ya. Good luck!” Aidan berpamitan, meninggalkan Nadia berdua dengan Gamal.

Sepeninggal Aidan, Gamal menatap Nadia dengan tatapan menyelidik. Nadia melengos, mengabaikan cowok itu.

“Cewek lo anak Guna Bangsa?” tanya Gamal tanpa basa-basi.

Pertandingan antar sekolah ini tidak dibuka untuk umum. Jadi, penontonnya hanya berasal dari SMA Guna Bangsa dan SMA Budhi Dharma. Gamal juga tahu betul cewek tadi bukan dari sekolah mereka.

“Itu cewek yang ketemu gue di kantin dulu, kan?” Gamal masih mengingat pertemuannya.

Lihat selengkapnya