Sour Seventeen

Lovaerina
Chapter #28

Bab 27 - Insiden di Tengah Pertandingan

Setelah menemui Nadia dan berbincang sebentar, Aidan kembali ke tribun. Sudah ada Hanna dan Fida di sana. Mereka bertiga jadi lebih dekat. Fida tidak merasa cemburu lagi karena Nadia berteman dengan cewek lain.

“Dari mana aja, Nad? Lama banget,” keluh Fida, lalu memanyunkan bibir.

“Toilet. Tadi antre,” timpal Aidan berbohong. Tidak mungkin dia mengaku baru saja menemui salah satu anggota tim rival mereka.

“Sini duduk, Nad,” ujar Hanna, bergeser ke kanan. 

Fida langsung bergeser ke kiri. Aidan segera duduk di antara kedua cewek itu. Setelah beberapa saat, mereka tenggelam dalam atmosfer di stadion yang dipenuhi antusiasme itu. Para pendukung yang duduk di tribun bersorak penuh semangat. Kegembiraan, harapan, dan ketegangan berpadu membuat udara terasa begitu hidup. Bagi Aidan, pertandingan ini bukan hanya tentang sepak bola semata. Meski mengharapkan kemenangan tim sekolahnya, Aidan lebih mengkhawatirkan Nadia.

Fida yang duduk di sebelah kiri, terlihat paling bersemangat. Dia memakai seragam lengkap dari sekolahnya, tidak ketinggalan syal dan topi dengan logo tim sepak bola Guna Bangsa. Cewek itu juga membentangkan handbaner berisi tulisan penyemangat untuk tim sekolah mereka.

“Nad, Han, ayo ikut teriak, dong! Biar Jerry sama yang lainnya jadi lebih semangat,” ujar Fida memprovokasi dua orang di sebelahnya.

Aidan gamang. Dia ingin ikut bersorak, tetapi berat hati, merasa mengkhianati timnya sendiri di Budhi Dharma. Bagaimanapun, Aidan menginginkan kemenangan untuk sekolahnya. Aidan tidak ingin perjuangan timnya, apalagi ada Nadia, berakhir sia-sia.

Sementara itu, Hanna sesekali ikut meneriakkan kata-kata penyemangat bersama Fida dan pendukung lain di barisan tribun mereka. suara sahut menyahut dengan pendukung tim lawan terdengar membahana di seluruh penjuru stadion.

Suasana semakin memanas saat suara peluit panjang mengawali pertandingan. Kedua tim bermain dengan semangat tinggi. Tribun bergemuruh oleh sorak sorai pendukung yang memenuhi stadion. Fida bersorak keras setiap kali Jerry dan timnya mendekati gawang lawan. Dia mengangkat handbanner-nya tinggi-tinggi dengan semangat yang membara. 

Aidan menggaruk pelipis setiap kali tim Budhi Dharma berada dalam situasi sulit, berharap agar mereka bisa bertahan dengan baik. Ditambah lagi dia melihat Nadia dalam tubuhnya, tampak kewalahan dan tertekan.

“Gol!” Tribun SMA Guna Bangsa meledak oleh sorak sorai para pendukung saat Jerry berhasil menjebol gawang Budhi Dharma. 

Fida dan beberapa murid lain sampai melompat kegirangan di tempat duduk mereka, memeluk satu sama lain dalam kebahagiaan. Sementara itu, tim lawan terlihat mengesah kecewa. 

Pertandingan berlanjut dengan tempo yang semakin cepat. Kedua tim saling berusaha mencetak gol tambahan untuk memenangkan pertandingan. Aidan melihat sosok dirinya sempat kehilangan fokus, sampai-sampai Jerry berhasil merebut bola kembali dan menghasilkan gol kedua.

Tekanan tergambar begitu jelas pada raut wajah Aidan yang masih ditempati oleh Nadia. Apalagi anggota yang lain terlihat menyudutkannya. 

Aidan ingin menghampiri Nadia, tetapi dia tidak memiliki alasan yang masuk akal. Bisa-bisa semua orang akan mencurigai dirinya dan Nadia. Jadi, Aidan menahan diri. 

Lihat selengkapnya