Sour Seventeen

Lovaerina
Chapter #29

Bab 28 - Kembali

Jemari kecil Nadia dan Aidan saling bertaut. Aidan mengusap-usap punggung tangan Nadia, berusaha menenangkannya. Di balik dinding tempat mereka diam-diam mengintip ini, Mama dan Papa sedang bertengkar hebat. Pertengkaran yang tidak pernah dimengerti oleh kedua bocah itu.

“Kita pisah. Anak-anak ikut aku,” ucap Mama setelah perdebatan mereka terjeda beberapa saat. 

Papa tampak menahan diri agar tidak tersulut emosi lagi. “Nggak bisa begitu. Salah satu harus ikut aku,” ucapnya menegosiasi. 

Nadia dan Aidan berpandangan. Mereka memang tidak begitu mengerti pertengkaran Mama dan Papa. Namun, percakapan tadi menjelaskan bahwa mereka harus berpisah. Genggaman tangan Nadia semakin erat. Kedua matanya merah menahan tangisan. Sesak menyerang rongga dada Nadia. Dia tak kuasa menahan tangisnya lagi. Nadia tersengguk-sengguk tanpa suara. 

“Nad… Nadia…” Samar terdengar suara familier memanggil bersama bayangan ingatan terakhir tentang bola yang ditendang oleh Jerry mengenai jidatnya.

Nadia membuka matanya perlahan. Wajah pertama yang Nadia lihat adalah Fida dengan raut panik. Mata Nadia sontak melebar dan terkesiap mendapati keberadaan Hanna. 

“Akhirnya lo sadar juga,” ucap Fida lega. 

Nadia mengamati sekeliling. Dia berada di tenda khusus kesehatan, tempat yang tepat untuk menangani orang cedera atau pingsan seperti dirinya. Namun, ada yang aneh. 

“Kok gue di sini?” Nadia seharusnya berada di ruang khusus para pemain bola. 

“Wah, gegar otak, nih!” seru Fida panik, lalu mengacungkan dua jari tepat di hadapan Nadia. “Ini berapa?” 

“Gegar otak sama rabun beda, Fida,” tegur Hanna. 

Nadia mengabaikan perdebatan kedua cewek itu. Dia masih mencerna situasi. Rasanya ada yang aneh. Nadia meraba rambutnya, tidak sependek rambut Aidan.

“Kalian lihat gue cewek atau cowok?” Nadia butuh validasi.

Hanna dan Fida berpandangan, seolah mereka sedang berkomunikasi melalui tatapan. Mereka mengernyit, lalu kompak menggeleng.

Fida mencondongkan badan ke arah Nadia dan bertanya, “Lo kesambet, Nad?”

Reaksi Fida itu membuat Nadia yakin bahwa dirinya sudah bertukar jiwa dengan Aidan dan kembali ke raga sendiri. Lalu bagaimana keadaan Aidan sekarang?

“Mau ke mana, Nad?” tanya Fida saat Nadia langsung bangkit dari matras.

“Ketemu Aidan,” balas Nadia dan segera keluar dari tenda itu.

Nadia berlari keluar. Hanna dan Fida menyusulnya. Suara sorakan riuh terdengar dari lapangan, menandakan pertandingan masih berlangsung.

“Aidan ditinggal sendirian?” gumam Nadia cemas.

Lihat selengkapnya