Sour Seventeen

Lovaerina
Chapter #30

Bab 29 - Waktu yang Dinanti

Nadia sempat berdebat dengan Aidan yang tidak menyetujui idenya. Namun, pada akhirnya Aidan mengalah. Nadia kembali ke rumah Aidan dengan wujudnya sendiri dan menunggu Papa pulang. 

Budhe yang masih menaruh curiga meski Nadia sudah menjelaskan siapa dirinya, memilih menunggu majikannya pulang. Budhe tidak mau menanggung risiko kalau-kalau ternyata Nadia berniat menggasak harta di rumah itu dengan modus baru.

Nadia duduk anteng di dipan rotan yang ada di teras. Budhe melarangnya masuk meski hanya ke ruang tamu. Untung saja, Papa tidak lembur. Mobilnya sudah tampak mendekat sebelum langit sore gelap sepenuhnya. 

Budhe bergegas menghampiri Papa yang turun dari mobil. Nadia beranjak dari duduknya dan tersenyum lebar menyambut Papa. 

Tatapan Papa tertuju pada Nadia dan keningnya sedikit berkerut. 

“Anu, Pak…” Budhe terlihat gugup dan kebingungan menjelaskan keberadaan Nadia.

“Halo, Pa,” sapa Nadia sambil mendekati Papa dan berdiri tepat di samping Budhe. “Ini Nadia, anak Papa.”

Beberapa detik Papa bergeming. Hingga sorot mata di balik tesmak itu berangsur lebih ramah, tidak ada kecurigaan seperti sebelumnya. 

“Nadia?” Mata Papa berkaca-kaca, suaranya seperti tercekat di tenggorokan. 

Budhe percaya Nadia tidak berbohong. Perempuan itu segera menyingkir, memberi ruang agar Papa bisa lebih dekat dengan Nadia.

Papa merengkuh Nadia, mendekapnya erat-erat. Nadia membalas pelukan Papa, hatinya terasa begitu hangat. 

Tidak ada kata yang terucap dari bibir Papa. Namun, usapan-usapan lembut pada punggung Nadia cukup untuk menyampaikan rindu terpendam yang kini membuncah ruah. 

Air mata Nadia lolos tanpa permisi, membasahi kemeja Papa bagian dada. Namun, dia tidak peduli. Kedua tangannya semakin erat memeluk pinggang Papa. Momen ini sangat Nadia rindukan sejak lama. 

Samar-samar terdengar seruan adzan. Papa mengurai pelukannya dan mengajak Nadia masuk. Budhe segera membuatkan minuman dan camilan. 

Detik-detik pertama mereka hanya saling berpandangan. Waktu yang berlalu tanpa kebersamaan seakan membentangkan jarak begitu lebar hingga canggung berkuasa. 

Nadia mengedarkan pandangan, menyisir ruang tamu yang desainnya minimalis itu. Dia bertingkah seolah ini adalah kedatangannya yang pertama kali. 

Lihat selengkapnya