Kehidupan Nadia dan Aidan kembali seperti semula, malah jauh lebih baik dari sebelumnya. Sekarang Nadia tidak sendirian lagi saat sarapan. Mama menemaninya meski hanya memakan selembar roti dan segelas jus buah. Mama juga mengurangi intensitasnya di luar rumah saat jam kerja usai.
Langkah Nadia menuju sekolah jauh lebih ringan karena tidak terbebani ekspektasi tim sepak bola. Dia tidak perlu lagi merasakan pegal-pegal karena harus ikut latihan. Menjadi diri sendiri rasanya sangat menyenangkan.
“Nad!” Fida yang baru memesan bakso langsung membuat kehebohan. “Udah denger kabar belum?”
Nadia mengernyit, bertanya melalui tatapan.
“Jerry pindah sekolah,” imbuh Fida sedikit berbisik.
Soal gosip di sekolah, Fida memang selalu mendapatkan informasi aktual dan seringnya akurat. Tidak tahu dari mana sumbernya.
Mendengar kabar dari Fida itu membuat Nadia iba. Kekalahan Guna Bangsa sepertinya mengguncang mental Jerry. Bukannya mundur sebagai kapten tim, cowok berambut ikal itu malah memutuskan cari sekolah baru.
Nadia tidak ada tanggapan. Meski dianggap mengecewakan pada pertandingan melawan Budi Dharma, Jerry berjasa juga bagi tim sekolahnya. Apalagi, Nadia tahu betul sepak bola bukan permainan mudah. Jadi, dia tidak akan menyudutkan Jerry karena belum berhasil mengalahkan tim lawan.
Semangkuk mi ayam yang mendarat di meja membuyarkan angan Nadia. Tatapannya beralih pada cewek yang kini duduk bersebelahan dengan Fida.
“Jerry beneran pindah?” tanya Fida langsung pada Hanna yang baru saja duduk.
Hanna menjawab dengan anggukan. Sebagai teman sekelas Jerry, cewek itu pasti sudah mengetahui kabar kepindahannya.
“Semalu itu dia gara-gara nggak menang?” tanya Fida lagi.
Nadia belum menanggapi. Dia hanya mendengarkan sambil mengaduk-aduk siomay.
“Nggak, kok. Bokapnya pindah tugas, jadi dia sekeluarga ikut pindah,” ungkap Hanna, lalu menyendok kuah mi ayam dan menyeruputnya.
Nadia menghela lega. Setidaknya bukan kekalahan yang membuat Jerry pindah. Dia khawatir cowok itu jadi menyerah hanya karena sempat kalah.
Pucuk dicinta, objek perbincangan mereka pun tiba. Jerry menghampiri meja mereka dan berdiri tepat di sebelah Nadia. Seisi kantin langsung menjadikannya pusat atensi.
“Ada yang mau aku omongin, bisa?” Jerry menatap Nadia serius.
Tidak ingin menjadi pusat tontonan, Nadia mengangguk setuju dan mengajak Jerry pindah dari sana agar bisa bicara berdua saja. Mereka berhenti di sebelah gedung olahraga dan berdiri saling berhadapan.
“Nad, aku suka sama kamu,” ungkap Jerry lugas tanpa basa-basi.
Nadia tidak kaget mendengar pengakuan itu. Jerry ganteng, tubuhnya tinggi dan atletis, senyumnya manis dengan cekungan di kedua pipi. Sayangnya, sejauh ini cuma satu cowok yang berhasil membuat jantung Nadia berdebar dan itu bukan Jerry.