
Di lantai bawah ruko bertingkat dua itu, aroma mawar dan tanah basah memenuhi udara. Ruangan penuh sesak oleh deretan tangkai bunga yang siap dirangkai, daun-daun hijau yang berserakan di atas meja kayu panjang, serta lalu lalang manusia yang sibuk dengan gunting dan pita.
Di atas ruko inilah tempat tinggal kecil mereka. Namun di bawah, kehidupan baru mereka denyutkan. Usaha ini merayap perlahan tapi pasti selama empat tahun terakhir—sebuah benteng kecil yang mereka bangun kembali dari puing-puing kebangkrutan yang pernah menghancurkan segalanya. Di depan bangunan, terpampang nyata plakat kayu berukir yang menjadi kebanggaan keluarga: Harumi Florist.
Matahari sore menyiram kaca depan ruko dengan warna jingga keemasan. Pasangan suami istri pemilik florist Harun dan Mita—dengan wajah yang menyimpan lelah namun memancarkan binar bahagia—berdiri mengelilingi meja bersama empat orang karyawan mereka.
"Ini proyek terbesar kita sejak toko ini berdiri," ujar sang ayah, menepuk lembaran kertas dokumen di atas meja kerja. "Menang tender untuk menghias seluruh area podium dan aula Sekolah Asrama Atlet Elit. Pihak yayasan sudah menandatangani kontraknya."
"Siswa-siswa atlet di sana bukan sembarangan, Pak. Anak-anak kaya dan berbakat dari seluruh negeri," timpal salah satu karyawan sembari mengikat bundelan pita merah. "Kalau dekorasi kita sukses di acara pembukaan musim ini, nama Harumi Florist bakal langsung naik kelas!"
Sang ibu tersenyum hangat, mengusap peluh di dahinya. "Yang penting kita kerjakan penuh rasa syukur. Ini pintu rezeki yang..."
CRINGG!
Suara lonceng kuningan di atas pintu depan berdenting nyaring, memotong percakapan hangat di dalam ruangan.
Seorang gadis melangkah masuk. Seragam putih-abu-abu yang melekat di tubuhnya tampak rapi meski sedikit kusam oleh debu perjalanan sore. Sepatu ketsnya menapak pelan di atas lantai ruko, menyebarkan aroma khas kelopak bunga yang selalu menempel pada helai rambutnya setiap kali ia pulang.
Clara telah kembali.
"Aku pulang," sapa Clara pelan, melepaskan tas sekolahnya yang terasa berat di bahu, menatap keramaian di tengah ruangan yang dipenuhi tumpukan mawar segar.
"Selamat datang, Clara!"
"Selamat datang, Dek Clara!"
Suara sahutan ramah dari karyawan dan kedua orang tuanya menyambut langkah Clara di tengah riuhnya aroma mawar dan kesibukan ruko.