Spesimen Tanpa Wajah

Kinanthi (Nanik W)
Chapter #1

BAB 1: Draf yang Meredup


Aroma kopi hitam dan wangi kertas cetakan baru selalu menjadi pelukan paling hangat bagi Nadia Dara Kirana. Di ruang kerjanya yang dipenuhi rak buku setinggi langit-langit, ia menatap layar laptop dengan mata berbinar. Buku terbarunya baru saja menduduki peringkat teratas di toko buku digital. Notifikasi di akun media sosialnya berdering dari banyak pembaca setianya, menandai namanya dalam unggahan yang banyak menuai pujian. Dara sebagai nama pena atau Nadia nama panggilannya sejak kecil adalah definisi wanita yang merdeka dalam pikirannya. Jika mengisi waktu luangnya dengan hobinya tanpa mengabaikan kewajiban sebagai isteri, salahkah? Ada perasaan tak nyaman kala terkenang ekspresi suaminya menanggapi buku terbarunya.

Suasana sunyi yang ganjil selalu punya cara sendiri untuk merayap masuk melalui sela-sela gorden apartemen bertipe tiga puluh enam itu. Cahaya matahari pagi menerobos tanpa bermalasan, kemudian memantulkan partikel debu yang melayang-layang di udara seperti serpihan ingatan yang enggan luruh. Partikel-partikel debu itu seolah terperangkap sinar matahari pagi, menampilkan warna putih tulang, bak tirai tembus pandang sedang melayang di udara. Sementara itu, beberapa tanaman hias yang ditanam di pot gantung tampak berayun ceria siap menerima sang mentari yang akan segera membuatnya berfotosintesis.

Di sudut meja makan berlapis kaca bening yang merangkap sebagai meja kerja, Nadia Dara Kirana duduk bergeming. Jemarinya terhenti di atas papan ketik laptop yang layarnya masih menyala setengah redup. Sebuah draf novel tentang rekonstruksi etika dan sejarah, proyek idealis yang sempat ia gadang-gadang akan menjadi mahakaryanya tahun ini, terbengkalai begitu saja di bab awal. Ia berhenti lama tidak segera menyelesaikan tulisannya, meskipun sekian kata sudah berdesakan untuk segera dipajang menjadi untaian kalimat bermakna.

Dara menarik napas panjang, sebuah helaan napas yang sarat akan keikhlasan yang dipaksakan. Matanya perlahan beralih pada sebuah plakat logam berlapis beludru biru di sudut rak buku. “Duta Literasi Kampus”, demikian tulisan yang tertera di sana, sebuah pembuktian atas kecerdasan intelektualnya yang pernah bersinar terang di langit akademis. Namun pagi ini, plakat itu tampak seperti monumen dari masa lalu yang sengaja disamarkan. Dara secara sadar memilih untuk meredup. Ia melipat layar laptopnya perlahan, memutus pendaran cahaya digital yang sejak subuh tadi menemani kegelisahannya. Menjadi wanita dengan gelar magister dan reputasi literasi yang mumpuni ternyata berubah menjadi sebuah draf kutukan, ketika ia harus berhadapan dengan kerapuhan ego seorang lelaki yang sedang kehilangan panggung dunianya.

Ia menatap duster dress brokat modern yang dikenakannya. Pakaian rumah itu adalah hasil rancangan dan jahitannya sendiri. Sebuah pelarian kegelisahan karena waktu luangnya memaksanya mengerjakan sesuatu, tentu yang sesuai dengan minatnya. Maka, ketika ia bisa memotong, mengukur, dan menyatukan kain-kain perca menjadi sesuatu yang anggun, ada konflik batin yang menyerangnya. Ia bersibuk mengisi waktu luang dengan hobinya, sebagai ajang melabuhkan kebingungan, manakala suaminya selalu uring-uringan, tidak mau diajak bicara, lalu ia harus bagaimana? Ia pun harus menerima protes nuraninya sendiri, bahwa ia di sela prestasi yang membuatnya senang, harus rela dianggap tidak mampu merapikan draf keretakan dalam rumah tangganya.

Dara tahu, di dalam rumahnya, langkah kakinya harus dibuat selembut mungkin. Setiap keberhasilan yang ia tunjukkan, setiap undangan seminar yang ia terima, dan setiap lembar royalti yang masuk ke rekeningnya, secara tidak sengaja telah berubah menjadi belati yang mengiris harga diri suaminya. Demi sebuah konsep keluarga sakinah yang ia pelajari dari kitab-kitab agama, Dara memilih melangkah mundur ke dalam bayang-bayang, menyembunyikan cahayanya agar sang suami tidak merasa semakin gulita.

Lihat selengkapnya