Spesimen Tanpa Wajah

Kinanthi (Nanik W)
Chapter #2

Bab 2 Logika yang Terbelenggu


Bab 2 Logika yang Terbelenggu


Layar monitor di depan Arlan seakan mengejeknya. Barisan angka di tabel spreadsheet itu menari-nari, buram, dan sama sekali tidak masuk akal bagi jemarinya yang terbiasa bergerak aktif. Arlan adalah seorang lelaki yang dunianya ada pada otot, koordinasi tubuh, dan ruang terbuka. Namun di sini, di bilik kantor lantai 12 ini, ia merasa seperti seekor macan yang dipaksa belajar mengeja di dalam kandang sempit. Maka, ia pun menghela napas panjang. Tangannya yang gatal ingin bergerak refleks meraih pulpen di meja, memutar-mutarnya dengan lincah di sela jemari, satu-satunya pelarian kecil bagi energi kinestetiknya yang terkurung. Untuk sesaat, hatinya menjadi riang dan kejenuhan sebagai pekerja kantoran pun sesaat terlupakan.

"Satu jam lagi, Arlan. Kalau ini tidak selesai, manajer akan bertanya lagi," bisiknya pada diri sendiri, meskipun suaranya terdengar seperti sebuah kekalahan dan sedikit mengandung keputuasaan.

Pikirannya melayang pada Dara. Semalam mereka berdebat lagi. Dara, dengan segala kecemerlangannya di media sosial dan bakat menulisnya yang mengalir deras, menawarkan bantuan finansial. Bagi Arlan, tawaran itu adalah tamparan. Pria harus memberi, bukan diberi. Itulah hukum alam di kepalanya. Namun, syarat yang ia berikan pada Dara, jangan jadi penulis, jangan jadi selebgram, terasa seperti rantai yang ia pasang karena ia takut Dara akan terbang terlalu tinggi. Sementara ia sendiri sedang tenggelam di rawa-rawa angka ini.

"Mas Arlan? Masih bingung dengan rumusnya?"

Suara lembut itu memecah lamunannya. Maya, rekan kerja di meja sebelah, mencondongkan tubuh dengan senyum simpati. Maya adalah "kamus berjalan" di kantor ini, tipe linguistik-matematik yang sangat Arlan butuhkan untuk bertahan hidup di pekerjaan ini.

Arlan menoleh, memasang senyum miring andalannya. Senyum yang selalu berhasil meluluhkan hati wanita. Ia tahu ini berbahaya, tapi ini adalah mekanisme pertahanannya menghadapi kejenuhan atas pekerjaannya. Yang tak diketahuinya sampai kapan sandiwara tanpa pemirsa ini kuat bertahan.

"Maya... sepertinya angka-angka ini sedang marah padaku. Kamu tahu kan, aku lebih jago memanjat tebing daripada menjinakkan tabel ini?" Arlan merendahkan suaranya, sedikit serak, matanya menatap lekat ke arah Maya. "Boleh aku minta bantuan sedikit lagi? Nanti pulang kantor, aku traktir kopi yang paling enak di kota ini sebagai imbalannya. Bagaimana?"

Lihat selengkapnya