Arlan menatap kertas kontrak di tangannya berlama-lama. Selama ini Dara tak pernah melarangnya bersibuk dengan hobinya. Bahkan ketika ia tidak segera mendapatkan pekerjaan lagi. Karena baginya dan siapapun itu, bekerja sesuai passion adalah harapan dan impian yang sebaiknya dikejar, jika tak ada kebutuhan mendesak untuk biaya bertahan hidup. Dara mengerti dan sangat mengerti, bahkan jika harus mengeluarkan dana untuk membiayainya berlatih padel, yang pada umumnya dianggap olahraga yang relatif mahal. Lalu, mengapa ia keberatan ketika isterinya juga bersibuk dengan hobinya? Padahal Dara tak pernah membiarkan meja makan kosong tanpa makanan. Kulkas pun selalu ada buah-buahan, telur, ayam ungkep, agar saat suaminya di rumah sementara ia sedang bekerja, ada makanan tanpa harus keluar rumah.
Arlan mencermati sekali lagi, lalu beralih menatap Dara yang terkesan tak nyaman di hadapannya. Ruangan itu mendadak terasa sangat sempit bagi Arlan. Sebagai pria kinestetik sekaligus patriarkis, ia merasa dadanya sesak, seolah oksigen di apartemen itu habis tersedot oleh angka-angka di kontrak milik Dara.
"Jadi, selama ini Kamu membohongiku?" suara Arlan rendah, tapi tidak menggelegar seperti biasanya. Ada nada patah di sana.
Dara menarik napas panjang, mencoba berdiri tegak. "Aku tidak membohongimu, Mas. Aku hanya menyelamatkan diriku sendiri. Kamu memaksaku memilih antara kamu atau jiwaku. Aku memilih keduanya, tapi Kamu membuatnya menjadi sembunyi-sembunyi. Aku mau mencoba mengerti dirimu. Tapi ego patriarki yang ada dalam hatimu, menuntutku harus berlaku demikian."
Arlan tertawa getir. Tawa yang hambar. "Nilai kontrak ini... ini lebih dari apa yang aku perjuangkan dengan memohon-mohon bantuan Maya di kantor setiap hari."
Nama itu keluar begitu saja. Maya. Dara tertegun,
"Maya? Rekan kerjamu yang sering kamu sebut itu? Apa hubungannya dengan dia?"
Arlan terduduk lesu di kursi makan. Keangkuhannya runtuh. Sifat kinestetik yang biasanya membuatnya ingin lari atau memukul sesuatu, kini justru membuatnya merasa lemas. Ia sadar, ia telah membangun sebuah kebohongan besar. Kebohongan yang pastinya membuat semua manusia yang merasa dibohongi dengan cara itu, akan marah. Bahkan, sebetulnya ia pun marah dan benci kepada dirinya sendiri.
"Aku membencimu karena kamu pintar menulis, Dara. Aku takut kamu meremehkanku jika kamu sukses. Cobalah memahami posisiku." Arlan menunduk, menatap lantai. "Dan karena ketakutan itu, aku memaksakan diri bekerja di bidang yang tidak aku kuasai. Aku payah dengan angka. Aku bukannya bodoh di depan komputer. Namun, napasku serasa ditimpa berkarung-karung beras saat menghadapi kenyataan harus bekerja sebagai orang kantoran. Aku orang lapangan, sama dengan Dirimu, pengajar, yang juga separuh orang lapangan kan? Toh tugas kantormu tidak harus Kaukerjakan di kantor seperti aku." Arlan berusaha menyakinkan bahkan jujur, kepada Dara yang masih diam menyimak kata per kata yang disampaikan suaminya.
Ia menarik napas berat. "Lalu ada Maya. Dia yang mengerjakan laporanku. Dia yang membuatku terlihat hebat di depan bos. Dan sebagai imbalannya... aku memberinya harapan. Aku merayunya agar dia terus membantuku. Aku menjadi pria yang paling aku benci demi terlihat sebagai 'pala keluarga' yang berkuasa di depanmu."
Keheningan menyelimuti ruangan. Dara terpaku, bukan karena cemburu yang meledak-ledak, tapi karena rasa kasihan yang mendalam. Ia melihat seorang lelaki yang hancur karena standarnya sendiri.
Mas..." Dara mendekat, tangannya ragu untuk menyentuh bahu Arlan. "Pernahkah terpikir kalau aku mencintaimu bukan karena uangmu? Aku mencintaimu karena caramu bergerak, caramu antusias membicarakan olahraga, dan energimu yang meluap. Aku tidak butuh pria yang jago matematika, aku butuh pria yang bahagia dengan dirinya sendiri."
Arlan mengangkat wajahnya. Matanya basah. "Aku merasa kecil, Dara. Setiap kali melihatmu menulis, aku merasa tidak berguna."
"Itu karena kamu menganggap hidup ini kompetisi gender, Mas," sela Dara lembut namun tegas. "Padahal kita ini tim. Kamu melarangku jadi penulis karena takut aku lebih tinggi, padahal kalau aku tinggi, aku bisa menarikmu ke atas bersama-sama."
Dara terduduk di sofa dengan airmata berlinangan. Arlan pun terdiam duduk di kursi yang berada di balkon sambil menatap lalu lalang kendaraan di luar dengan aneka pikiran yang memenuhi kepalanya.