Bab 4 Orang Ketiga
Beberapa minggu berlalu. Arlan semakin mahir memerankan peran "pria sukses". Di kantor, dia dan Maya sering lembur berdua. Maya mengerjakan bagian logika dan angka yang rumit, sementara Arlan memberikan "afeksi" kecil sebagai imbalan. Sentuhan di bahu, pujian manis, nonton film berdua, nonton konser musik berdua, menghadiri undangan pernikahan kolega berbusana mewah dengan desain dan warna seragam, berfoto berdua dengan pose mesra untuk dipamerkan ke seluruh dunia, atau makan malam mewah, bahkan ada niat menikah siri demi bisa menikmati yang ingin dinikmati bersama wanita lain yang bukan isteri. Demi cintanya pada isteri, ia tanpa sadar rela "menjual diri" kepada wanita yang rela mengerjakan tugas kantornya. Semua itu demi impian diberi uang belanja bergaji dolar, jika kelak Arlan kembali bekerja sesuai ijazahnya.
Suatu sore, Maya menatap Arlan dengan serius. "Arlan, proyek ini selesai bulan depan. Setelah itu, apa kita akan terus begini? Kamu tahu aku tidak melakukan ini semua hanya untuk laporan kantor, kan?"
Arlan terdiam. Jantungnya berdegup kencang karena rasa tidak nyaman (ciri khas orang kinestetik saat merasa terpojok secara emosional). Dia butuh Maya untuk mengerjakan laporan bulan depan, tapi dia tidak ingin meninggalkan Dara. Dia terjebak dalam jaring laba-laba yang dia buat sendiri.
"Maya, beri aku waktu. Kita jalani saja dulu,"jawab Arlan pendek, lalu dia segera bangkit dan keluar kantor. Dia butuh bergerak. Dia butuh udara. Sesampainya di rumah, dia mendapati Dara sedang tertidur di meja makan. Di samping kepalanya tepatnya di meja rias, ada sebuah surat kontrak dari sebuah penerbit ternama. Nama penulisnya: Dara Kirana. Arlan selalu tak tenang tiap ingat hal itu. Sudah dua kali konrak ditandatanganinya.
Dara terbangun, matanya merah karena kurang tidur. "Mas... maaf. Aku tidak bisa berhenti. Menulis itu napasku. Dan aku tidak butuh uangmu, aku butuh kamu yang mendukungku."
Tiap ingat itu, ia selalu teringat Maya di kantor. Dia merasa sangat kerdil. Selama ini dia merasa hebat karena "melarang" Dara. Larangan yang adakalanya asal saja bagi kaum wanita yang tak dituntut begini begitu oleh suaminya. Dengan alasan demi melindunginya, warna dan desain busana pun diaturnya, tanpa ia tahu apa sesungguhnya yang dimaui? Toh kesetiaan justru ketika seseorang itu dibebaskan. Jika ia setia pada komitmen, tentu tak akan tergoda. Sejujurnya, adakah kenikmatan diberi kesetiaan karena iming-iming gaji dolar? Lalu, jika bualan tak ada. cinta itu pun tak ada? Bahagia apaan itu!
Ia paham dan ia marah pada dirinya sendiri atas lelucon yang tanpa sengaja telah diketahui seluruh dunia. Seisi bumi pun tahu, bahwa cinta dan kesetiaan yang diperolehnya, muncul karena iming-iming materi. Ia memperoleh pengabdian total itu dari Maya. Wanita yang terpesona ijazahnya, ketampanannya, dan bualan- bualannya. Padahal sebenarnya dia hanya takut Dara lebih bersinar darinya. Ego patriarkisnya perlahan retak. Dia melihat tangannya. Tangan yang selama ini memegang kemudi, ingin selalu mengemudikan wanita justru ketika kemudi itu terlepas darinya.
Haha, ia merasa seluruh dunia menertawainya. Menertawai kekecewaan terlepas dari pekerjaan kebanggaannya, lalu mengemudikan wanita sedemikian rupa, sehingga kian menunjukkan konsep berpikirnya. Sungguh sangat disayangkan. Mengapa lelaki patriarkis "menyerang" dan "menumbangkan" wanita demi dirinya lebih bersinar? Meskipun untuk itu, ia harus pamer ke seluruh dunia, bahwa ia laku mahal karena bergaji dolar? Padahal ia tampan tanpa pamer uang. Narasi-narasi kawan dan lawan semua mengatakan demikian. Ia beruntung dicintai Maya. Wanita yang mau melupakan hobinya demi membuatnya menang. Wanita yang kontradiktif dengan Dara. Dara selalu ingin menulis meskipun tak ada pembaca. Dara selalu bersibuk dan sudah merasa cukup dengan perolehannya, gajinya sebagai PNS.
Apakah karena ia sudah memiliki segalanya sesuai dengan standar gajinya? Padahal, jika mau melepas hobinya demi membesarkan hatinya, ia pasti bisa membeli rumah dan mobil untuk mereka berdua. Ia pasti akan rajin bekerja dan percaya diri jika Dara mau melenyapkan ego dan hobinya, toh kelak ia pasti menggantinya dengan hal setara. Misalnya nih. daripada membiarkan dirinya bekerja di perusahaan orang, mengapa Dara tidak memodali dirinya dengan cara menjual kedua rumahnya, mobilnya, agar dirinya bisa memiliki home industri milik pribadi? Lalu, Dara tak usah menulis. cukup berperan sebagai isteri, agar ia aman merasa dicintai.
Jika dari hasil Dara menjual seluruh aset untuk memberinya modal, ia bisa kaya, lalu tertarik kepada wanita lebih muda, apa daya. Itu memang nasib Dara. Nasib wanita patriarki yang berani menolak sekian lelaki. Itulah suntikan dari generasi di atasnya demi menghukum Dara. Wanita yang tak patuhi tradisi memang layak mati dalam hidup. Demikian kejam pencucian otaknya itu. Dulu, ketika ia bekerja sesuai passion, ia tak peduli, toh ia cintai Dara yang juga cintai dirinya. Namun, ketika ia terpuruk, bisikan iblis ternyata membuatnya ingin selalu menyiksa Dara. Ia yang semula berpihak kepada Dara, berbalik mematuhi arahan jahat itu. Semata iming-iming akan dicarikan pekerjaan sesuai passion lagi, kelak jika ada lowongan lagi, asalkan mau membuat Dara menjalani hidup bak kerakap tumbuh di batu, hidup enggan mati tak mau, akibat malu Arlan telah memamerkan kemesraan dengan Maya. Ia pun didoktrin untuk menyiksa hati Dara dengan sekian kesalahan yang dicari -cari, seolah moral dan mentalnya telah dicuci. Upaya jahat yang diturutinya, justru ketika ia merasa terpuruk.