Spesimen Tanpa Wajah

Kinanthi (Nanik W)
Chapter #5

Bab 5 Kejujuran di Ruang HRD

Bab 5 Kejujuran di Ruang HRD

Arlan terdiam. Inilah ujian sebenarnya. Jika ia mengakui semua di depan hukum atau perusahaan lama, ia bisa kehilangan pekerjaan barunya yang ia cintai ini. Namun, Arlan tidak lari lagi. Ia memutuskan untuk menemui Pak Hendra, Kepala HRD di perusahaan lamanya. Ia datang dengan pakaian kerjanya yang masih berdebu, kontras dengan gedung kaca yang dulu ia tempati. Di dalam ruangan, Pak Hendra menatapnya heran

"Arlan? Saya pikir kamu sudah hilang ditelan bumi. Maya terus mendesak kami untuk menuntutmu."

Arlan duduk dengan tenang. Tidak ada lagi beban untuk terlihat hebat. "Pak, saya ke sini untuk meluruskan semuanya. Saya mengakui saya menyalahgunakan akun saya untuk laporan yang dikerjakan Maya. Tapi saya juga ingin Bapak tahu alasan kenapa Maya mau melakukannya."

Arlan menarik napas panjang. "Saya berbohong padanya. Saya pamer bahwa saya adalah pewaris saudagar kaya dari daerah. Saya memanfaatkan ambisi Maya yang ingin punya koneksi dengan orang kaya agar dia mau membantu pekerjaan saya. Dia tidak menolong saya karena kasihan atau cinta yang tulus, Pak. Dia menolong saya karena dia pikir saya adalah 'tiket' untuk gaya hidup yang dia impikan."

Pak Hendra terdiam, lalu menyandarkan punggungnya. Sebagai orang yang sudah lama menangani karakter manusia, ia bisa mencium bau kebenaran.

"Jadi," lanjut Arlan, "Saya minta maaf atas kekacauan administratifnya. Tapi saya tidak bisa memberikan 'tanggung jawab' yang Maya minta yaitu menikahinya atau memberinya uang. Karena harta itu tidak pernah ada. Saya hanyalah pria yang lelah duduk di depan komputer."

Pak Hendra terkekeh pelan, sebuah reaksi yang tak terduga. "Arlan, Arlan... Sejak awal saya sudah curiga. Mana ada pewaris kaya yang stres hanya karena rumus Excel? Kami sebenarnya sudah mencium gelagat Maya yang terlalu dominan mengontrol akunmu. Kami tahu dia ambisius, tapi kami tidak menyangka dia seputus asa itu untuk mengejar status."

"Bapak mendukung saya?" tanya Arlan ragu.

"Saya menghargai kejujuranmu sekarang, Arlan. Daripada saya mempertahankan orang yang bekerja berdasarkan manipulasi status seperti Maya, saya lebih suka menutup kasus ini sebagai 'kesalahpahaman internal'. Apalagi Maya tahu Kamu telah memiliki isteri, kan? Hm...separah itu ambisinya untuk pamer suami setampan Kamu, sampai jungkir balik babak belur tak mau menyelidiki siapa dirimu. Asal bisa cinlok, tabrak saja. Kebiasaan itu. Saya akan bersihkan namamu dari tuntutan hukum, asalkan kamu berjanji jangan pernah kembali ke bidang ini. Kamu payah di sini, Arlan."

Lihat selengkapnya