Di dalam kepala Arlan, terjadi perang terus-menerus. Setiap kali ia melihat Nadia (Dara) bersiap pergi ke kampus untuk mengajar, atau melihat notifikasi ribuan likes di ponsel Nadia, Arlan merasa tubuhnya seolah menyusut. Ia merasa seperti "pria pajangan". Ada suara di kepalanya yang terus berbisik: "Dia tidak butuh kamu. Dia bisa membeli segalanya sendiri. Kamu hanya beban di rumah ini."
Untuk membungkam suara itu, Arlan membangun tembok pertahanan berupa larangan. Ia melarang Nadia aktif bukan karena ia peduli pada keselamatan Nadia, tapi karena ia butuh Nadia tetap "kecil" agar dia bisa merasa "besar". Namun, semakin ia melarang, ia semakin membenci dirinya sendiri karena tahu bahwa tindakannya itu pengecut. Karena di rumah ia merasa menjadi "pecundang" di hadapan istri yang profesor dan selebgram. Arlan mencari validasi di tempat lain dengan cara-cara tersebut. Saat Arlan sedang merasa rendah diri karena gajinya kecil, Dara menggenggam tangannya dan berkata,
"Mas, uang di rekeningku bisa membeli makanan, tapi dia tidak bisa memelukku saat aku lelah setelah mengajar. Uang itu tidak bisa diajak diskusi tentang draf novelku. Aku punya uang, tapi aku tidak punya 'rumah' kalau tidak ada Kamu. Aku butuh kekuatanmu untuk menjagaku tetap waras, bukan cuma untuk bayar tagihan."
"Mas tahu kenapa aku bisa menulis novel sebagus itu? Karena Kamu ada di sampingku. Kalau aku sendirian, aku mungkin terlalu takut untuk bermimpi. Kamu adalah fondasiku. Jadi, jangan merasa kecil, karena tanpa Kamu, semua pencapaianku ini terasa hambar."
Ia berjuang keras untuk tidak berpisah karena Arlan tetap pulang ke rumahnya, tetap tidak memberikan jawaban atas tuntutan Maya untuk menikahinya. Meskipun secara umum ulah Arlan pernah memberikan kesan sebagai "Don Juan" di lingkungan kerja dan pergaulan. Di luar rumah, Arlan menciptakan persona sebagai pria sukses yang "sedang bosan".
Ia mendekati wanita-wanita seperti Maya, wanita yang lebih muda atau yang secara intelektual tidak sekuat Nadia. Semua pun bisa menebak, bahwa ia ingin melihat tatapan memuja. Ia butuh wanita yang menatapnya dengan kekaguman seolah-olah ia adalah pahlawan. Hal yang tidak lagi ia dapatkan dari Nadia karena Nadia sudah terlalu mandiri.
Saat rayuan dan "kerajaan palsu"-nya tidak cukup untuk menutupi rasa rendah dirinya, Arlan lari ke alkohol. Saat mabuk, ia merasa berkuasa. Dalam keadaan mabuk, ia sering kali memaki-maki kesuksesan istrinya kepada teman-temannya, menyebut istrinya "pembangkang" atau "lupa kodrat". Ini adalah bentuk mekanisme koping untuk melempar kesalahannya pada orang lain.
Ia bahkan menunjukan isi chat isterinya kepada semua wanita yang ditemuinya di klab malam, di kantor, di jalanan, bahkan di grup teman sekolahnya, bahwa isterinya, wanita pengajar itu, sangat pembangkang dan pelit memberi uang. Maka, beberapa wanita sesama pemabuk pun memapahnya, memeluknya, mencubit hidungnya yang mancung, lalu membayari semua yang ditenggaknya.
Ia mungkin sengaja tidak menjemput Nadia tepat waktu, atau merusak alat kerja Nadia dengan dalih "tidak sengaja", hanya untuk melihat Nadia sedikit kesulitan dan butuh bantuannya. Ia rindu saat-saat Nadia "membutuhkannya" Selain itu, ia tidak selalu selingkuh secara fisik, tapi ia memberikan perhatian berlebih pada wanita lain hanya untuk membuktikan pada dirinya sendiri, "Lihat, aku masih laku. Wanita lain masih menginginkanku, meski istriku sendiri menganggapku tidak kompeten.
Aku benci melihatnya berdiri di podium itu, ujarnya di antara wanita-wanita pengagumnya. Suaranya yang lantang saat mengajar mahasiswa membuatnya tampak seperti ratu, dan itu membuatku merasa seperti pelayan yang hanya bertugas mengantar-jemputnya.