Langit sore itu berwarna jingga kemerahan, seperti warna tembaga yang baru ditempa. Udara sisa hujan meninggalkan aroma tanah basah (petrichor) yang menenangkan, seolah alam baru saja selesai membasuh sisa-sya amarah mereka. Di teras belakang yang kecil namun asri, suara jangkrik mulai bersahutan di antara tanaman hias milik Dara.Tidak ada suara televisi atau dering ponsel. Hanya ada hembusan angin yang memainkan ujung rambut Dara dan aroma kopi hangat yang mengepul dari dua cangkir di atas meja kayu. Suasana terasa sangat intim, namun masih ada sisa-sisa kecanggungan yang menggantung di udara. Seperti jembatan yang baru saja selesai diperbaiki namun belum ada yang berani melewatinya.
Arlan duduk di kursi kayu, tangannya yang kasar dan penuh kapalan karena pekerjaan konstruksi tampak gemetar saat memegang cangkir. Ia menatap tangannya sendiri, lalu menatap Dara yang duduk di sampingnya, memandang kaki langit. Arlan dengan suaranya serak dan rendah,
"Tanganku sekarang kasar, Dara. Tidak seperti tangan pria kantoran yang dulu Kamu cintai. Kadang aku malu untuk sekadar menggenggam tanganmu yang lembut."
Dara menoleh, senyumnya tipis namun penuh kedalaman. Ia tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan langsung meraih tangan Arlan dan menautkan jemarinya di sana.
"Mas, tangan ini yang bekerja keras tanpa berpura-pura. Tangan ini yang jujur. Aku tidak butuh tangan yang hanya lihai memegang pulpen atau merayu orang lain untuk mengerjakan tugasnya. Aku butuh tangan yang tahu caranya membangun kembali apa yang sudah retak."
Arlan menarik napas panjang, matanya mulai berkaca-kaca. Ego patriarkis yang selama ini membebaninya seolah meluruh bersama sisa senja.
"Aku masih merasa tidak pantas, Dara. Gaji melatihku bulan ini... bahkan tidak cukup untuk membeli sepatu yang Kamu pakai. Aku pria yang payah, kan? Aku merasa gagal melindungimu karena aku tidak bisa memberimu kemewahan."
Dara pun mendekat dan menyandarkan kepalanya di bahu Arlan,
"Mas, dengarkan aku. Kamu pikir aku ini apa? Seorang pajangan yang butuh dibiayai? Aku ini teman hidupmu. Kesuksesanku sebagai dosen dan penulis adalah milik kita berdua. Jangan pernah merasa kecil karena gajimu, karena buatku, nilai seorang pria ada pada kejujuran dan keberaniannya menghadapi kenyataan."
Dara menatap mata Arlan dengan tajam namun lembut,
"Aku tetap mencintai Arlan yang sekarang. Arlan yang berdebu tapi pulang dengan hati yang bersih. Aku tidak butuh saudagar kaya fiktif atau pria 'sok penguasa' di rumah. Aku cuma butuh teman untuk menua, yang tidak takut istrinya bersinar. Kamu pahlawanku bukan karena uangmu, tapi karena Kamu berani mengaku salah demi kita."
Arlan terdiam lama, lalu perlahan mengecup kening Dara. Sebuah kecupan yang tidak lagi berisi keinginan untuk mendominasi, melainkan janji untuk setia dalam kesederhanaan.