Spesimen Tanpa Wajah

Kinanthi (Nanik W)
Chapter #9

Bab 9 Tergoda Kenangan

Arlan berdiri di lantai lima bangunan yang masih setengah jadi. Helm proyeknya berdebu, dan kemeja kerjanya basah oleh keringat. Di tangannya bukan lagi pena yang terasa berat, melainkan cetak biru bangunan dan HT. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Arlan merasa "penuh". Energi kinestetiknya tersalurkan pada setiap beton yang ia periksa dan setiap instruksi yang ia teriakkan di tengah bisingnya mesin.

Namun, yang paling berubah bukan pekerjaannya, melainkan isi kepalanya.

"Dulu, aku mabuk bukan karena aku haus. Aku mabuk untuk membungkam suara di kepalaku yang terus berteriak bahwa aku tidak cukup baik untuk Dara. Setiap kali aku duduk di kantor, aku membayangkan Dara di kampusnya, dikelilingi rekan dosen yang pintar bicara, atau penulis-penulis hebat yang dunianya begitu luas. Aku takut dibanding-bandingkan. Aku takut suatu hari dia sadar bahwa suaminya hanyalah pria otot yang tak punya teori apa-apa.”

Arlan menatap ponselnya, melihat foto Dara yang baru saja mengirimkan pesan "Semangat kerjanya ya, Mas. Aku bangga lihat kamu di lapangan."

Ia teringat ucapan kakak laki-lakinya tempo hari saat mereka bicara dari hati ke hati.

"Lan, kamu itu sudah menang sejak awal. Dara itu lajang lama bukan karena dia pemilih yang sombong, tapi karena dia mencari perlindungan yang tidak bisa diberikan oleh teori-teori di bukunya. Dia memilihmu karena kamu nyata, kamu melindunginya. Berhenti menghukumnya atas ketulusannya hanya karena kamu takut pada bayanganmu sendiri."

Suara tepuk tangan itu masih terngiang di telinga Dara, namun bagi Arlan, suara itu terdengar seperti ejekan ribuan lebah yang menyengat harga dirinya.

Di ruang tamu apartemen yang temaram, Dara Kirana duduk di depan meja kerjanya. Cahaya dari lampu meja menyinari wajahnya yang tenang, jemarinya lincah menari di atas kibor laptop. Ia baru saja menyelesaikan sesi bincang buku secara daring. Senyumnya masih tersisa, sebuah senyum kemenangan yang tulus, namun seketika memudar saat matanya menangkap sosok di sudut ruangan.

Arlan. Lelaki itu duduk di lantai, bersandar pada kaki sofa. Kemeja kantornya sudah tidak keruan rimbalnya. Dasi yang biasanya melambangkan wibawa kini hanya seutas kain kusut yang mencekik lehernya. Di depannya, dua botol bir kosong menjadi saksi bisu betapa kerasnya ia mencoba melarikan diri dari kenyataan hari ini.

"Hebat ya, Profesor Dara," suara Arlan pecah, serak oleh alkohol dan kepahitan. "Semua orang memujamu. Kata-katamu dianggap wahyu. Tapi apa mereka tahu kalau suamimu sendiri bahkan tidak bisa memahami satu baris pun angka di laporan kantor hari ini?"

Dara menghentikan ketikannya. Ia tidak menoleh, tapi bahunya sedikit merosot. "Mas, ini bukan tentang siapa yang lebih pintar. Aku cuma melakukan pekerjaanku."

Pekerjaan?" Arlan tertawa sinis, sebuah tawa yang menyakitkan untuk didengar. Ia berdiri dengan sempoyongan, mendekati meja Dara. "Pekerjaanku adalah di langit, Dara! Menjinakkan ribuan ton besi di tengah badai. Bukan duduk di kubikel sempit, menatap angka-angka mati yang membuat kepalaku mau pecah!"

Arlan menyambar tumpukan draf novel terbaru Dara. Ia menatap kertas-kertas itu dengan kebencian, seolah-olah tumpukan kertas itu adalah musuh yang telah mencuri identitasnya.

"Kamu terlalu sibuk menulis tentang cinta yang puitis, sampai kamu lupa kalau suamimu sedang sekarat di daratan. Kamu tidak butuh aku, Dara. Kamu hanya butuh cermin untuk mengagumi kepintaranmu sendiri!"

BRAKK!

Arlan menghempaskan draf itu ke lantai. Kertas-kertas putih itu berhamburan, terbang seperti sayap-sayap burung yang patah.

Lihat selengkapnya