Spesimen Tanpa Wajah

Kinanthi (Nanik W)
Chapter #10

Bab 10 Jejak yang Tertinggal


Dara selalu percaya bahwa setiap tindakan manusia meninggalkan pola, sama seperti teori yang sering ia ajarkan di kelas. Namun, pola yang ditunjukkan Arlan belakangan ini adalah pola yang asing. Arlan yang biasanya pulang dengan emosi meledak, kini pulang dengan keheningan yang jauh lebih menakutkan. Sore itu, cakalang suwir pedas di meja makan sudah mendingin. Arlan pulang lewat tengah malam dengan langkah yang terlalu ringan untuk seseorang yang baru saja "lembur".

"Mas sudah makan?" tanya Dara, suaranya tenang, mencoba menyembunyikan getaran di hatinya.

"Sudah di kantor tadi. Sama teman-teman," jawab Arlan singkat tanpa menatap mata Dara. Ia langsung masuk ke kamar mandi.

Dara merapikan meja makan dengan gerakan mekanis. Saat ia hendak memindahkan jas kantor Arlan yang tersampir di kursi, hidungnya menangkap sesuatu. Bukan aroma keringat dari debu proyek yang ia harapkan, melainkan wangi parfum wanita yang manis, vanilla dan jasmine. Sangat lembut, namun bagi Dara, aroma itu setajam sembilu.

Dara terdiam, memegang jas itu erat-halus. Ia tidak berteriak. Ia tidak menangis. Sebagai seorang intelektual, ia tahu bahwa bukti fisik hanyalah permulaan. Yang lebih menyakitkan adalah menyadari bahwa Arlan lebih memilih mencari "udara" di luar rumah daripada bernapas bersamanya. Keesokan harinya, Dara memutuskan untuk melakukan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, yaitu mendatangi kantor Arlan tanpa pemberitahuan. Ia beralasan ingin mengantarkan berkas asuransi yang tertinggal, namun jauh di lubuk hatinya, ia sedang mencari jawaban.

Di lobi kantor logistik yang sibuk, Dara berdiri dengan anggun. Gaun batiknya yang simpel namun elegan membuatnya tampak menonjol di antara staf yang berseliweran. Matanya mencari, dan ia menemukannya.

Di kafetaria terbuka di lantai satu, Arlan sedang duduk bersama seorang wanita muda. Arlan tertawa, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan di apartemen selama berbulan-bulan. Di depan wanita itu, Arlan tampak dominan, bercerita dengan gerakan tangan yang luas, sementara si wanita mendengarkan dengan tatapan memuja.Dara mendekat. Langkah kakinya yang pelan namun pasti terdengar seperti detak jantung yang berpacu.

"Mas Arlan?"

Tawa Arlan terhenti seketika. Wajahnya memucat, berubah dari singa yang gagah menjadi pria yang tertangkap basah.

"Dara? Kamu... sedang apa di sini?" Arlan berdiri dengan kaku.

Maya, wanita di depan Arlan, ikut berdiri. Ia menatap Dara dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan menilai. "Oh, ini istri Mas Arlan yang dosen itu ya?" tanya Maya dengan nada yang terdengar sedikit terlalu ramah.

Dara tersenyum, senyum paling profesional yang pernah ia keluarkan. "Dara Kirana. Maaf mengganggu jam istirahat kalian. Saya hanya ingin mengantarkan berkas Mas Arlan."

Dara menyerahkan amplop cokelat itu, namun matanya tetap tertuju pada Maya. "Senang melihat Arlan punya teman bicara yang baik di sini. Belakangan ini dia memang agak kesulitan beradaptasi dengan... kertas."

Kalimat Dara tenang, namun maknanya menusuk tepat ke titik terlemah Arlan. Arlan merasa kecil lagi. Di depan Maya, ia ingin dianggap pahlawan, tapi dalam satu kalimat, Dara mengingatkannya bahwa ia hanyalah seorang staf yang sedang kesulitan.

Lihat selengkapnya