Spesimen Tanpa Wajah

Kinanthi (Nanik W)
Chapter #11

Bab 11 Mendarat di Rumah

Arlan tidak menjawab. Hanya setelah suara pintu tertutup rapat dan kunci diputar, ia merasa oksigen di apartemen itu mendadak hilang. Ia sendirian. Tanpa tatapan iba Dara yang menghakiminya, namun juga tanpa pegangan yang biasanya menahannya agar tidak jatuh lebih dalam.

Malam itu, Arlan tidak pulang ke pelukan Maya. Ia justru pergi ke sebuah bar remang-remang di sudut kota. Ia ingin minum sampai otaknya berhenti berpikir, sampai angka-angka Excel dan bayangan kokpit pesawat itu lenyap dari ingatannya.

"Satu lagi," perintah Arlan pada barista, suaranya parau.

Di gelas kelima, ponselnya bergetar. Sebuah panggilan video dari Maya. Arlan mengangkatnya dengan gerakan malas.

"Mas Arlan? Kamu di mana? Kok berisik sekali?" wajah Maya muncul di layar, tampak khawatir namun dibuat-buat.

"Di tempat yang tidak ada kertasnya, May. Di tempat yang tidak ada orang pintarnya," Arlan tertawa meracau.

"Pulanglah, Mas. Atau aku jemput? Kamu tidak bisa bekerja besok kalau begini," rayu Maya.

Arlan menatap layar ponselnya. Tiba-tiba, wajah Maya tampak begitu membosankan. Maya adalah cermin yang hanya memantulkan apa yang ingin Arlan lihat. Maya tidak menantangnya, tidak memaksanya tumbuh. Maya hanya merawat luka yang seharusnya disembuhkan.

"Jangan jemput aku, May. Kamu bukan rumahku," gumam Arlan sebelum mematikan ponselnya dengan kasar.

Ia keluar dari bar dengan langkah terhuyung. Langit malam Jakarta tertutup polusi, tak ada bintang. Arlan menatap ke atas, mencari rasi bintang yang dulu menjadi pemandunya saat terbang. Nihil. Ia merasa seperti pesawat yang kehabisan bahan bakar di tengah samudra luas.

Sesampainya di apartemen, dalam kondisi mabuk berat, Arlan kehilangan keseimbangan. Ia terjatuh di ruang tengah, menyenggol rak buku Dara. Puluhan buku tebal tentang psikologi, sastra, dan pendidikan berjatuhan menimpa tubuhnya.

Ia mengerang, mencoba bangkit di antara tumpukan buku itu. Tangannya meraih sebuah buku catatan kecil bersampul kulit yang terselip di antara buku-buku besar. Buku harian Dara.

Dengan pandangan kabur, Arlan membuka halaman yang ditandai dengan pembatas pita merah.

"Rencana A: Jika Arlan kembali terbang. Rencana B: Jika Arlan tetap di darat namun menemukan kebahagiaan barunya."

Lihat selengkapnya