Spesimen Tanpa Wajah

Kinanthi (Nanik W)
Chapter #12

Bab 12 Di Antara Dua Dunia

Aku membacanya, Dara," Arlan mendekat, berhenti tepat di depan istrinya. "Aku membaca setiap kata yang kamu tulis. Dan aku minta maaf karena selama ini aku terlalu sibuk meratapi sayapku yang patah sampai aku lupa bahwa kamu adalah langitku."

Dara merasakan matanya panas. "Mas..."

"Aku bukan lagi pilot, Dara. Aku mungkin tidak akan pernah duduk di kokpit itu lagi," Arlan meraih tangan Dara, menempelkan telapak tangannya yang kasar dan penuh kapalan ke pipi istrinya. "Tapi aku sudah menemukan tempatku. Aku sekarang mekanik di sekolah penerbangan. Aku tidak terbang, tapi aku yang memastikan orang lain bisa terbang dengan aman."

Dara memejamkan mata, menikmati kehangatan tangan itu. Inilah tangan Arlan yang ia cintai. Tangan yang bekerja, tangan yang memelihara, bukan tangan yang menghancurkan.

"Kamu tidak perlu menjadi orang lain untuk aku cintai, Mas," bisik Dara. "Aku butuh suami, bukan pilot."

Arlan tersenyum, lalu ia membimbing Dara ke meja kayu kecil itu. "Meja ini aku buat untukmu. Tempat kamu menulis semua kata-katamu. Aku yang akan memastikan mejanya tidak akan pernah goyang, supaya kamu bisa terus menulis tentang dunia."

Dara menyentuh permukaan meja itu. Terasa sangat halus. Ia tahu, di setiap inci amplasnya, Arlan telah mengubur egonya dan menumbuhkan rasa hormat yang baru.

Malam itu, mereka duduk bersama di balkon. Bukan sebagai dua orang yang saling berkompetisi, tapi sebagai sebuah tim. Dara dengan buku catatannya, dan Arlan dengan sketsa mesinnya.

Jadi, apa judul novelmu selanjutnya?" tanya Arlan sambil menyesap teh hangatnya.

Dara menatap langit Jakarta yang kini tampak lebih bersahabat. Ia meraih tangan Arlan, menyatukan jemarinya yang lentur dengan jemari Arlan yang kuat.

"Aku punya judul yang bagus," ujar Dara sambil tersenyum. "Patah Sayap di Daratan."

Arlan tertawa, kali ini tawa yang lepas dan tulus. "Judul yang bagus. Pastikan bab terakhirnya berakhir dengan pendaratan yang sempurna."

"Sudah, Mas," sahut Dara pelan. "Kita sudah mendarat di rumah."

Di ketinggian apartemen itu, di bawah kerlip lampu kota, mereka sadar bahwa cinta bukanlah tentang memiliki kehebatan yang sama. Cinta adalah tentang bagaimana "Kata" milik Dara memberi makna pada "Kerja" milik Arlan, dan bagaimana "Kerja" milik Arlan memberi kekuatan pada "Kata" milik Dara.

Sayap mereka mungkin tidak lagi membawa mereka ke awan, namun akar mereka kini tertanam kuat di bumi, saling melilit dan menguatkan.

Lihat selengkapnya