Spesimen Tanpa Wajah

Kinanthi (Nanik W)
Chapter #13

Bab 13 Jakarta, Tiga Tahun Lalu.

Jakarta, Tiga Tahun Lalu.


Arlan baru saja mendarat dari penerbangan melelahkan dari Tokyo. Di kamar hotelnya yang sepi, ia masih mengenakan kemeja putih pilotnya yang setengah terbuka. Di luar, langit Jakarta berwarna oranye kemerahan, tapi Arlan merasa hampa. Ia punya segalanya—gaji besar, pangkat Kapten di usia muda, dan kekaguman dari banyak wanita—tapi ia tidak punya seseorang yang benar-benar mendengarnya.

Ia membuka Instagram, jarinya menggulir layar dengan malas sampai ia berhenti pada sebuah kutipan yang diunggah oleh akun @Dara.Kirana.

"Banyak orang ingin terbang tinggi, tapi lupa bahwa akar yang kuatlah yang membuat pohon tidak tumbang saat badai. Ketinggian tanpa pijakan hanyalah cara lain untuk jatuh lebih sakit."

Arlan tertegun. Kalimat itu bukan sekadar kata-kata mutiara picisan. Itu terasa seperti teguran langsung untuknya. Ia menelusuri profil Dara. Tidak ada foto selfie yang berlebihan. Hanya foto tumpukan buku, suasana ruang kelas, dan sesekali foto Dara yang sedang tersenyum tipis di depan laptopnya.

Ia terlihat sangat... teduh. Sangat berbeda dengan wanita-wanita yang biasa mendekati Arlan hanya karena silau dengan garis emas di bahunya.

Dengan jantung yang berdegup sedikit lebih kencang, Arlan memberanikan diri mengirim pesan (DM).

Arlan_Aditama: "Kalimatmu tentang 'ketinggian' tadi siang... itu hampir membuat seorang pilot seperti saya merasa bersalah karena terlalu sering berada di awan. Salam kenal, Dara."

Ia tidak berharap dibalas. Seorang dosen sastra dan penulis pasti punya banyak pesan masuk. Namun, lima menit kemudian, ponselnya bergetar.

Dara.Kirana: "Salam kenal, Kapten Arlan. Maaf jika tulisanku membuatmu tidak nyaman. Tapi bukankah di kokpit pun kalian punya instrumen untuk tahu seberapa jauh kalian dari bumi? Aku hanya ingin menjadi instrumen itu dalam bentuk kata-kata."

Arlan tersenyum. Itu adalah pertama kalinya seseorang membalasnya dengan kecerdasan yang setara, namun tetap terasa lembut. Percakapan itu berlanjut. Berjam-jam. Berminggu-minggu.

Arlan menemukan bahwa Dara adalah sosok yang sangat "keibuan" dalam artian positif. Ia sangat menyimak, tidak pernah menghakimi, dan selalu punya cara untuk menenangkan badai di pikiran Arlan. Arlan yang biasanya keras dan dominan, perlahan-lahan luluh. Ia merasa seperti menemukan tempat perlindungan.

"Kamu lebih tua dariku, Dara. Dan kamu jauh lebih pintar. Apa kamu tidak malu punya pacar yang cuma tahu cara menerbangkan besi besar?" tanya Arlan dalam sebuah panggilan telepon malam hari, beberapa bulan kemudian.

"Mas Arlan," suara Dara terdengar lembut namun mantap. "Pintar itu banyak jenisnya. Aku pintar dengan kata-kata, kamu pintar dengan tindakan. Aku bisa menulis tentang langit, tapi kamulah yang benar-benar menjangkaunya. Kita bukan sedang berkompetisi, kita sedang melengkapi."

Lihat selengkapnya