Tiga tahun telah berlalu sejak badai Maya mereda. Arlan kini sudah stabil dengan bengkel pesawatnya, dan rumah tangga mereka terlihat tenang dari luar. Namun, bagi Dara, pengampunan bukan berarti melupakan.
Ada malam-malam ketika Dara terbangun hanya karena mencium aroma parfum vanilla di kerumunan pasar swalayan. Jantungnya akan berdegup kencang, dan luka lama itu terasa menganga kembali.
Arlan sering melihat Dara melamun di meja kerjanya. Ia tahu, meskipun ia sudah menebus kesalahannya dengan kesetiaan yang luar biasa, ada bagian dari jiwa Dara yang ia hancurkan dan tidak bisa kembali utuh.
"Masih sakit, Dara?" tanya Arlan suatu malam, sambil menyentuh bahu istrinya.
Dara menoleh, tersenyum tipis. Senyum yang mengandung kelelahan sekaligus ketabahan. "Bukan sakit, Mas. Hanya... ada bekas luka yang kadang gatal saat hujan turun. Aku memaafkanmu, itu janji suciku. Tapi hatiku butuh waktu untuk percaya bahwa rumah ini tidak akan bocor lagi."
Dara tidak pernah berselingkuh. Ia punya ribuan kesempatan, rekan sesama dosen, editor bukunya yang mapan, atau sutradara film. Namun, ia memilih bertahan. Bukan karena ia lemah atau tidak laku, tapi karena ia percaya pada komitmen yang melampaui perasaan.
Ia adalah "Hillary" dalam versinya sendiri. Ia menanggung malu dan perih sendirian, menjahit kembali kepercayaannya inci demi inci. Ia membuktikan bahwa kesetiaan adalah bentuk tertinggi dari kecerdasan emosional.
Gerimis tipis di luar jendela apartemen seolah bersekongkol dengan suasana hati Dara yang kian mendung. Di dalam kamar mandi, suara gemercik air terdengar memburu, sewarna dengan detak jantung Dara yang masih menyisakan rasa sesak akibat bentakan Arlan baru saja.
Dara terduduk di tepi ranjang, menatap jemarinya yang lentur. Ia tahu, di balik tubuh tegap dan sikap kaku suaminya, ada seorang anak kecil yang terluka dan belum pernah sembuh. Arlan adalah produk dari sebuah rumah yang bising, namun membuatnya merasa sangat sepi.
Pikiran Dara melayang pada cerita-cerita yang pernah ia kumpulkan dari bibi Arlan, juga dari lembar-lembar masa lalu yang enggan Arlan bagi.