Spesimen Tanpa Wajah

Kinanthi (Nanik W)
Chapter #15

Bab 15 Candu Pujian

Bunyi mesin faks dan obrolan miring para karyawan di jam makan siang selalu membuat Arlan merasa berada di tempat yang salah. Lelaki itu menatap nanar ke arah layar monitornya. Barisan data inventaris barang sisa gudang minggu lalu masih berantakan. Otaknya yang terbiasa berpikir taktis-kinestetik di dalam kokpit terasa beku menghadapi deretan angka digital yang seolah sengaja mengujinya.

"Mas Arlan belum makan siang? Ini... aku buatkan teh manis hangat dan kubawakan bekal mi goreng kesukaanmu."

Aroma vanilla-jasmine itu kembali datang mendahului sosoknya. Maya berdiri di samping kubikel Arlan dengan senyum yang begitu cerah, meletakkan sebuah kotak makan plastik berwarna merah muda tepat di samping tumpukan kertas manifes.

Arlan mendongak, mengembuskan napas berat seraya memijat pangkal hidungnya yang berdenyut. "Terima kasih, Maya. Kamu repot-repot sekali. Pekerjaan ini benar-benar membuatku kehilangan nafsu makan."

Maya tidak langsung pergi. Wanita itu justru menarik kursi kosong di sebelah kubikel dan duduk mendekat. Jarak yang tercipta begitu tipis, hingga Arlan bisa mencium keharuman parfum Maya yang pekat—aroma yang perlahan mulai menggeser rasa bersalah di kepalanya menjadi sebuah kenyamanan yang semu.

"Jangan menyerah begitu, Mas. Mas Arlan itu pria yang hebat, mantan pilot yang terbiasa menguasai langit," suara Maya merendah, terdengar sangat empati namun sarat akan siasat. Jemarinya yang lentik bergerak pelan, merapikan sudut kertas manifes yang kusut akibat remasan tangan Arlan. "Hanya saja, tempat ini terlalu kerdil untuk orang sebesar kamu. Mas Arlan tidak cocok berkutat dengan angka-angka administratif ini."

Pujian itu mengalir bagai air dingin di gurun pasir bagi ego Arlan yang selama ini gersang. Di rumah, Dara mendesaknya untuk realistis dan menerima keadaan, sebuah nasihat logis yang di telinga Arlan terdengar seperti penghinaan. Namun di sini, Maya justru menyanjung ketidakbecusannya mengurus dokumen sebagai tanda bahwa dirinya "terlalu besar" untuk pekerjaan daratan.

"Tapi kalau laporan ini tidak selesai sebelum jam lima, Pak Baskoro pasti akan menegurku lagi, May," bisik Arlan, menyuarakan ketakutan terbesarnya, yaitu tak ingin terlihat gagal di mata orang lain.

Maya tertawa kecil, sebuah tawa manis yang sengaja diatur untuk meruntuhkan pertahanan Arlan. "Kan ada aku, Mas. Biar laporan ini aku yang selesaikan setelah jam istirahat nanti. Mas Arlan makan saja dulu, lalu istirahat. Aku tidak akan membiarkan 'Kaptenku' ini dipermalukan oleh atasan."

Lihat selengkapnya