Spesimen Tanpa Wajah

Kinanthi (Nanik W)
Chapter #16

Bab 16 Sinyal yang Terdistorsi

Sudahlah, Dara. Aku lelah," potong Arlan kasar, melangkah menuju kamar tidur dan langsung menutup pintunya dengan rapat, meninggalkan Dara sendirian di dapur yang mendadak terasa begitu dingin.

Dara berdiri mematung di bawah pendar lampu dapur. Ia menyentuh dadanya yang terasa sesak. Insting seorang wanita salihah jarang keliru. Ia tahu, suaminya tidak sedang berjuang sendirian di luar sana. Ada "suara lain" yang sedang menyuapi ego Arlan, sebuah bisikan beracun yang pelan-pelap mulai meruntuhkan fondasi rumah tangga mereka dari dalam.

Dan Dara, dengan segala ketabahan dan martabat yang ia miliki, tahu bahwa ia harus bersiap menghadapi badai yang sesungguhnya.

Malam beringsut semakin larut, namun atmosfer di dalam apartemen terasa kian mencekam. Sinar lampu dari ruang kerja Dara adalah satu-satunya cahaya yang memotong kegelapan ruang tengah. Di balik meja, jemari Dara bergerak lambat di atas papan ketik, mencoba menumpahkan segala sesak di dadanya menjadi baris-baris kalimat fiksi. Baginya, menulis bukan sekadar profesi; menulis adalah cara jiwanya merawat kewarasan di tengah rumah yang perlahan kehilangan kehangatan.

Suara pintu kamar yang dibuka dengan kasar mengejutkan Dara. Arlan berdiri di ambang pintu ruang kerja. Lelaki itu masih mengenakan celana kain kantornya, matanya merah karena kurang tidur, dan wajahnya mengeras memendam badai yang siap meledak.

"Belum selesai juga pamer kecerdasanmu lewat tulisan-tulisan itu, Dara?" suara Arlan menggelegar, memecah keheningan malam.

Dara menghentikan ketukannya. Ia menarik napas panjang, mencoba meredam getaran di tangannya sebelum berbalik menatap suaminya. "Mas, ini tenggat waktu dari penerbit. Aku harus menyelesaikannya minggu ini."

Arlan melangkah masuk, setiap hentakan kakinya terasa seperti ancaman yang nyata di ruangan yang sempit itu. Ia berhenti tepat di depan meja kerja Dara, lalu dengan kasar membalikkan layar laptop istrinya hingga tertutup setengah.

"Aku sudah bilang, aku tidak suka melihatmu terlalu mencolok!" bentak Arlan, suaranya bergetar oleh perpaduan antara amarah dan rasa inferioritas yang akut. "Setiap kali aku membuka media sosial, yang kulihat adalah pujian untuk Dara Kirana sang penulis hebat, sang dosen cerdas. Sementara suamimu di sini... setiap hari harus mengemis bantuan orang lain di kantor hanya agar tidak terlihat bodoh di depan angka-angka sialan itu!"

Tanpa sadar, Arlan hampir membongkar rahasianya tentang Maya. Namun, dalam otaknya yang telah terdistorsi oleh manipulasi, kesuksesan Daralah yang menjadi akar dari segala kesialannya. Kata-kata Maya di kantor, bahwa wanita ambisius lupa cara menghargai proses suaminya, telah berubah menjadi pembenaran mutlak di kepala Arlan.

Lihat selengkapnya