Spesimen Tanpa Wajah

Kinanthi (Nanik W)
Chapter #17

Bab 17 Rasa Bersalah

Langkah kaki Arlan terdengar berat saat memasuki apartemen malam itu. Di dalam tas kerjanya, tersimpan draf laporan inventarisasi gudang yang rapi, tanpa satu pun coretan merah dari Pak Baskoro. Selesai dengan sempurna. Namun, Arlan tahu, kesempurnaan itu bukan miliknya. Itu adalah hasil kerja keras Maya yang duduk lembur di sampingnya hingga senja meredup, sembari sesekali menyelipkan pujian-pujian manis yang membuat Arlan merasa menjadi pria paling penting di dunia.

Setiap kali ia menerima bantuan Maya, ada setumpuk rasa bersalah yang menggunung di dadanya. Namun, alih-alih meminta maaf atau bertaubat, Arlan memilih membawa gunung rasa bersalah itu pulang untuk dilemparkan ke kepala Dara.

Arlan melangkah ke ruang tengah dan mendapati Dara sedang duduk tenang di meja makan, membaca sebuah buku agama bersampul tipis. Tidak ada laptop yang menyala. Tidak ada dering notifikasi yang bising dari ponsel istrinya. Suasana apartemen begitu hening, persis seperti yang Arlan tuntut semalam.

Arlan meletakkan tasnya dengan sentakan yang sengaja dikeras-keraskan. "Bagaimana? Sudah kamu lakukan apa yang aku minta semalam?"

Dara mendongak, menatap Arlan dengan sepasang mata yang pias, menyisakan jejak lingkaran hitam akibat kurang tidur. Ia mengangguk perlahan. "Sudah, Mas. Akun media sosialku sudah dinonaktifkan. Kontrak draf novel terbaruku juga sudah kuminta untuk ditangguhkan sementara waktu oleh penerbit."

Dara berbicara tanpa nada amarah, hanya ada keikhlasan yang dipaksakan demi sebuah bakti.

Mendengar jawaban itu, Arlan seharusnya lega. Ego patriarkisnya seharusnya menang. Namun, melihat ketenangan dan pengorbanan Dara yang begitu besar, Arlan justru merasa semakin kerdil. Kebaikan Dara seolah-olah menjadi cermin besar yang menelanjangi kebohongannya bersama Maya di kantor. Tersudut oleh nuraninya sendiri, Arlan menggunakan senjata terbaik seorang pengecut: gaslighting. Ia harus membuat seolah-olah Daralah yang bersalah atas keheningan rumah ini.

Arlan mendengus kencang, berjalan mendekati meja makan dengan menyilangkan tangan di dada. "Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu? Kamu mau membuatku merasa bersalah karena sudah mengatur istriku sendiri?"

Dara tertegun, menatap suaminya dengan pandangan tidak percaya. "Mas, aku menjawab dengan jujur. Aku sudah mematuhimu."

"Tapi caramu menatapku itu seolah menuduhku sebagai suami yang kejam, Dara!" bentak Arlan, suaranya meninggi memecah kesunyian. "Kamu sengaja kan, mengalah dengan gaya seperti ini agar semua orang ,atau bahkan Tuhan, menganggap aku pria patriarkis yang jahat? Kamu selalu merasa paling benar, paling suci, dengan sikap diammu itu!"

Lihat selengkapnya