Spesimen Tanpa Wajah

Kinanthi (Nanik W)
Chapter #18

Bab 18 Masalah yang Berulang

Maya melangkah keluar dari kamar mandi dengan dagu tegak. Ia meraba ponsel di saku blusnya. Di dalamnya, ia telah menyimpan beberapa foto kedekatan mereka saat lembur malam di kubikel. Foto-foto yang diambil dari sudut tertentu sehingga seolah-olah memperlihatkan keintiman yang lebih dari sekadar rekan kerja.

Ia berjalan kembali ke ruang operasional. Dari kejauhan, dilihatnya Arlan sedang duduk memijat pelipisnya di depan komputer, tampak tersesat di daratan yang asing. Maya mengubah raut wajahnya dalam sekejap, memasang kembali senyuman manis nan polos yang menjadi senjata andalannya.

"Mas Arlan... kepalanya masih pusing?" sapa Maya lembut, bersandar di dinding kubikel Arlan dengan gestur yang sengaja dibuat manja. "Sore ini ada laporan pengiriman kontainer dari pelabuhan yang harus diverifikasi. Mau aku bantu ketikkan lagi di apartemenku malam ini? Di sana suasananya lebih tenang daripada di kantor yang bising ini."

Arlan mendongak, terkejut mendengar tawaran yang sudah mulai melompat pagar batas profesional itu. Ada keraguan besar di mata sang mantan pilot. Dan di sela keraguan itulah, Maya bersiap menyuntikkan racun berikutnya yang akan memaksa Arlan memilih: terus bersembunyi di balik ketaatan Dara, atau terjerumus sepenuhnya ke dalam perangkap yang telah ia siapkan dengan rapi.

Tawaran Maya untuk menyelesaikan laporan di apartemennya menggantung di udara seperti sebuah umpan yang berkilau. Arlan menatap wanita muda di hadapannya itu dengan debar jantung yang tak beraturan. Ada rasa takut yang membentang di benaknya, rasa takut akan bayangan Dara di rumah. Namun, di atas rasa takut itu, ada satu hal yang jauh lebih berkuasa mengendalikan Arlan saat ini, harga diri yang terluka.

Arlan berdeham, mencoba menguasai kembali suaranya yang sempat tercekat. Ia menarik punggungnya tegap-tegap, memasang kembali senyuman penuh wibawa khas seorang Kapten yang tidak boleh terlihat butuh dikasihani, bahkan oleh wanita yang membantunya.

"Terima kasih atas tawarannya, Maya," ujar Arlan, suaranya dibuat seberat dan seberwibawa mungkin. "Tapi kurasa tidak perlu sampai ke apartemenmu. Aku tidak mau membuat staf secantik kamu repot mengurusi laporanku sampai malam. Biar kubawa pulang saja."

Maya menaikkan sebelah alisnya, sedikit terkejut dengan penolakan halus itu, namun ia tetap bertahan dengan senyuman manisnya. "Ah, Mas Arlan ini selalu saja sungkan. Padahal aku tulus membantu. Aku hanya tidak tega melihat pria sehebat kamu harus pusing memikirkan pekerjaan logistik murahan ini setiap hari."

Kalimat "pekerjaan logistik murahan" itu kembali menyentil urat inferioritas Arlan sebagai seorang anak tengah yang seumur hidupnya haus akan status tertinggi. Ia tidak tahan jika Maya menganggapnya sebagai pria daratan yang malang, yang bekerja di kantor ini murni karena tidak punya pilihan finansial setelah kehilangan lisensi terbangnya.

Maka, untuk menutupi rasa kerdilnya dan membalas rasa kagum Maya agar tetap berada di bawah kendalinya, sebuah kebohongan besar meluncur begitu saja dari bibir Arlan.

Arlan terkekeh kecil, sebuah tawa yang sengaja dibuat terdengar meremehkan keadaan. "Kamu tidak perlu cemas, Maya. Pekerjaan di kantor logistik ini... sebenarnya hanya bagian dari skenario besarku."

Lihat selengkapnya