Spesimen Tanpa Wajah

Kinanthi (Nanik W)
Chapter #19

Bab 19 Surat Salah Alamat

Maya tahu, dengan menyebarkan rumor ini, ia telah mengunci pergerakan Arlan. Jika suatu saat Arlan mencoba menjauh darinya atau kembali pada pelukan hangat Dara, orang-orang kantor akan melihatnya sebagai pria lemah yang takluk pada intimidasi "istri kejamnya". Maya sedang mengisolasi Arlan dari daratannya, memotong satu-satunya jalan pulang menuju keteduhan rumah tangga yang sesungguhnya, demi memastikan sang mantan pilot hanya memiliki satu tempat bersandar, kubikel sempit yang telah dipenuhi aroma vanilla-jasmine miliknya.

...

Keheningan Sabtu pagi di apartemen terasa begitu rapuh. Arlan masih terlelap di kamar setelah semalaman terombang-ambing oleh kegelisahan yang ia sembunyikan di balik punggungnya. Sementara itu, Dara duduk di meja makan, ditemani secangkir teh chamomile hangat yang uapnya perlahan menipis.

Sejak menonaktifkan seluruh akun media sosialnya, dunia Dara mendadak menjadi sangat sunyi. Namun, di dalam kesunyian itu, indra pengamatannya justru bekerja dua kali lipat lebih tajam. Kepekaan literasinya kini beralih fungsi menjadi sebuah pisau bedah psikologis. Ia mulai mencatat setiap detail, misalnya cara Arlan meletakkan ponsel dengan layar menghadap ke bawah, perubahan intonasi suaranya yang terlalu defensif, hingga aroma manis yang kini seolah menolak hilang dari pakaian suaminya.

Tok! Tok! Tok!

Ketukan di pintu depan memecah analisis batin Dara. Ia berdiri, melangkah anggun lalu membuka pintu. Seorang kurir ekspres berdiri di sana sembari menyodorkan sebuah amplop cokelat tebal yang disegel rapi.

"Paket untuk Pak Arlan Aditama, Bu. Mohon tanda tangannya di sini," ujar kurir itu ramah.

Setelah menandatangani resi, Dara kembali ke meja makan dengan amplop di tangannya. Di bagian pojok kiri atas, tertera nama pengirim: Manajemen Logistik PT. Tama Perkasa. Namun, ada satu detail kecil yang membuat kening Dara berkerut. Di bawah nama perusahaan, tertulis nama pengirim personal dengan tulisan tangan yang rapi berhias tinta gel ungu: Maya (Divisi Operasional).

Nama itu. Nama yang baunya telah lebih dulu menjajah rumah tangganya sebelum sosoknya menampakkan diri.

Amplop itu tidak dilem dengan semen perekat yang kuat, melainkan hanya direkatkan dengan selotip bening yang ujungnya sudah sedikit terbuka—mungkin akibat gesekan selama di perjalanan. Di dalam draf berpikir Dara, sebuah pergulatan moral terjadi. Sebagai seorang istri yang menghargai privasi, membuka surat suami tanpa izin adalah pelanggaran etika. Namun, sebagai seorang wanita yang sedang mengendus aroma kehancuran rumah tangganya, insting detektifnya berbisik bahwa ini adalah petunjuk penting.

Dengan ucapan bismillah yang lirih, Dara menyelipkan jemarinya, membuka selotip itu tanpa merusak kertasnya. Ia mengeluarkan isi amplop tersebut.

Lihat selengkapnya