Spesimen Tanpa Wajah

Kinanthi (Nanik W)
Chapter #20

Bab 20 Konfrontasi

Aku tidak pernah menganggapmu tidak berguna, Mas Arlan," air mata Dara akhirnya luruh, setitik demi setitik membasahi pipinya, namun suaranya tetap terjaga di batas martabatnya sebagai wanita salihah. "Aku menutup seluruh akun media sosialku, membatalkan kontrak novel terbaruku, dan meredupkan duniaku. Itu karena aku ingin menopang egomu yang sedang terluka. Aku mengalah demi pernikahan ini. Tapi apa yang kudapatkan? Di balik punggungku, Kamu membiarkan wanita itu merusak reputasiku di kantor, mencapku sebagai istri kejam yang menindasmu, hanya agar Kamu bisa terlihat sebagai pahlawan yang teraniaya! Lalu apa tujuanmu memisahkan aku dengan duniaku? Agar selingkuhanmu itu kian lebih baik dariku? Kamu membunuhku perlahan-lahan. Menyayat hatiku sedikit-demi sedikit sambil menikmatinya."

Arlan tertegun. Ia tidak menyangka Dara bisa membaca sejauh itu hingga ke jaring gosip yang ditenun Maya di kantor. Namun, daripada melunak dan meminta maaf, rasa rendah diri yang telanjur berakar membuat Arlan memilih untuk membakar jembatan. Ia tidak sudi terlihat kalah di depan wanita yang telah ia paksa mengalah.

"Kalau Kamu memang sudah tahu semuanya, lalu mau apa?!"

Arlan menantang terus terang. Andaikan Maya ada di dekatnya, tentu ia memeluk Maya di depannya, agar mata Dara terbuka, bahwa ia sudah tidak sudi padanya. Bahkan suaranya menggelegar kejam, melemparkan surat Maya ke atas meja. "Kamu mau menceraikanku dan menulis cerita tentang keburukanku agar pembaca selebgrammu mengasihanimu? Silakan! Aku tidak akan pernah bertekuk lutut meminta maaf padamu, Dara. Harga diriku sebagai suami tidak akan pernah kubiarkan tunduk pada kecerdasan dan kesucian palsumu itu!"

Arlan membalikkan badan dengan kasar, menyambar kunci mobil di atas bufet, lalu melangkah lebar keluar dari apartemen. Pintu depan dibanting dengan kekuatan penuh, menyisakan gema yang bergetar di dalam ruangan yang mendadak terasa begitu luas dan sunyi.

Dara perlahan melipat kedua tangannya di atas meja, menenggelamkan wajahnya di sana, dan membiarkan tangisnya pecah di hadapan takdir yang kian kelam. Batas sabarnya telah terlampaui. Ia telah memberikan pengorbanan terbaiknya, namun ego patriarkis dan manipulasi luar telah memilih jalan kehancuran. Dan di balik air mata itu, jiwa "detektif mental"-nya tahu, babak baru yang melibatkan ruang HRD kantor Pak Baskoro akan segera dimulai.

Senin pagi di kantor operasional PT. Tama Perkasa tidak pernah menyambut karyawannya dengan kelembutan. Bunyi telepon yang bersahut-sahutan dan deru mesin cetak dokumen seolah langsung menghantam kepala Arlan begitu ia melangkah melewati pintu kaca.

Semenjak konfrontasi hebat dengan Dara di apartemen hari Sabtu lalu, Arlan tidak pulang ke rumah. Ia memilih tidur di sebuah hotel melati dekat bandara, membiarkan tubuhnya didera rasa bersalah yang coba ia tenggelamkan dengan rasa amarah. Baginya, melarikan diri jauh lebih mudah daripada harus menatap mata Dara yang tahu betul seluruh borok kebohongannya.

Arlan duduk di kubikelnya, mengempaskan tubuhnya yang terasa kaku. Matanya yang merah menatap layar monitor yang belum menyala.

"Pagi, Mas Arlan... mukanya kok kusam sekali? Masih kepikiran masalah di rumah?"

Lihat selengkapnya