Ruang HRD utama terletak di lantai paling atas gedung PT. Tama Perkasa, terisolasi dari kebisingan lantai operasional. Ruangan itu berdinding putih bersih, dengan sebuah meja oval dari kayu jati yang berkilat tertimpa cahaya lampu neon yang benderang. Tidak ada ornamen kosmetik di sana; hanya ada hawa dingin dari mesin pendingin ruangan yang seolah siap membekukan keberanian siapa pun yang masuk.
Arlan duduk di salah satu kursi kulit hitam, meremas kedua tangannya di bawah meja untuk menyembunyikan getaran hebat di jemarinya. Di seberangnya, telah duduk Ibu Karina, kepala divisi HRD yang terkenal dengan tatapan matanya yang setajam elang, didampingi oleh Pak Baskoro yang masih memasang wajah kecewa.
"Silakan diminum dulu airnya, Arlan. Kamu kelihatan sangat tegang," ujar Ibu Karina, suaranya tenang namun memiliki penekanan yang mengintimidasi.
Arlan hanya mengangguk pias, tidak menyentuh gelas di depannya. "Terima kasih, Bu. Saya siap mendengarkan."
Ibu Karina membuka map tebal di hadapannya, membalik beberapa lembar dokumen dengan ketukan jari yang teratur. "Arlan, agenda siang ini bukan sekadar evaluasi kinerja bulanan biasa. Kami sedang melakukan audit investigasi menyeluruh karena ketidaksesuaian data kontainer minggu lalu telah merugikan reputasi pengiriman perusahaan di mata klien pelabuhan."
Beliau menggeser selembar kertas hasil cetak sistem digital ke hadapan Arlan.
"Pak Baskoro sudah menyampaikan bahwa kamu mengaku kesulitan dengan sistem logistik. Dan staf kami, Maya, mengonfirmasi bahwa dia sering mengambil alih pengisian rumus Excel-mu. Pertanyaan saya yang pertama: Mengapa seorang mantan pilot yang terbiasa mengoperasikan instrumen kokpit yang jauh lebih rumit, bisa gagal total hanya untuk memvalidasi nomor manifes daratan?"
Pertanyaan itu menghujam tepat pada inti rasa malu Arlan. Pria itu menelan ludah yang terasa kesat. Ego patriarkisnya kembali berontak; ia tidak bisa mengatakan bahwa kecerdasan kinestetiknya menolak labirin logis-matematik di atas meja.
"Saya... saya masih dalam proses adaptasi, Bu. Lapangan dan kokpit memiliki ritme yang berbeda," alasan Arlan terdengar sangat rapuh, bahkan di telinganya sendiri.
"Adaptasi adalah satu hal, Arlan. Tetapi ketidakjujuran adalah hal lain," serang Ibu Karina tanpa ampun. Beliau menopangkan kedua tangannya di atas meja, menunduk menatap Arlan dengan pandangan menyelidik. "Audit digital kami menunjukkan bahwa akun sistemmu digunakan untuk memasukkan data pada jam-jam di mana kamu bahkan tidak berada di kantor. Maya mengaku dia melakukannya atas perintahmu karena kamu sering meninggalkan kubikel."
Arlan terkesiap. Maya benar-benar telah membalikkan fakta untuk mencuci tangannya sendiri. Di kubikel, Maya merayunya dengan berkata, 'Biar aku yang selesaikan, Kapten', namun di hadapan HRD, tindakan itu dilaporkan sebagai 'perintah dari Arlan yang sering bolos'.
"Bukan begitu kejadiannya, Bu! Maya yang menawarkan diri."
"Cukup, Arlan," potong Ibu Karina dengan lambaian tangan yang tegas. "Hal kedua yang membuat kami harus melakukan investigasi ini adalah rumor yang berkembang sangat liar di lantai bawah mengenai latar belakang pribadimu. Apakah benar kamu adalah calon pewaris tunggal dari pemilik aset besar di Tuban yang sedang 'dihukum' kerja dari bawah di sini?"