Senin pagi, pelataran parkir gedung PT. Tama Perkasa tampak padat oleh kesibukan awal pekan. Di antara hilir mudik karyawan yang tergesa-gesa menembus pintu kaca, sebuah taksi berhenti tepat di depan lobi utama. Pintu mobil terbuka, dan dari dalamnya melangkah keluar seorang wanita dengan keanggunan yang seketika mencuri perhatian sekeliling.
Dara Kirana berdiri tegak, membenarkan letak jilbab satinnya yang berwarna abu-abu teduh. Ia mengenakan duster dress brokat modern potongan profesional yang sangat elegan. Sebuah busana yang ia rancang dan jahit dengan jemarinya sendiri di rumah, memancarkan aura wanita matang yang berkelas namun bersahaja. Di tangan kanannya, ia menjinjing tas kulit hitam kecil yang di dalamnya tersimpan rapi amplop cokelat tebal kiriman dari daratan.
Dara menarik napas panjang, melangkah anggun memasuki lobi utama. Begitu ia menyebutkan namanya di meja resepsionis, desas-desus halus langsung berdesir di antara para staf administrasi yang berada di dekat sana.
"Itu... istrinya Kapten Arlan?" bisik seorang staf dari balik sekat meja logistik, matanya menyipit menilai.
"Iya, Dara Kirana sang penulis itu. Kok penampilannya teduh dan anggun begitu ya? Berbeda sekali dengan cerita Maya tentang 'istri kejam yang ambisius'," timpal staf lain dengan nada suara yang mulai ragu pada gosip kemarin.
Dara mengabaikan setiap tatapan miring dan bisikan yang berhamburan di koridor lantai bawah. Ia berjalan dengan dagu tegak, memancarkan ketenangan seorang akademisi yang memegang gelar Sarjana Bahasa dan Sastra Indonesia serta Magister Teknologi Pembelajaran. Baginya, ruangan ini hanyalah sebuah labirin teks penuh distorsi informasi yang harus diluruskan dengan fakta etika dan karakter, nilai-nilai yang seumur hidup ditanamkan oleh almarhum ayahnya.
Saat lift berdenting di lantai empat, Dara melangkah keluar menuju ruang HRD utama. Di lorong kaca, ia berpapasan dengan Maya.
Wanita muda itu berdiri bersandar di dekat dispenser, masih dengan aroma vanilla-jasmine-nya yang pekat mendominasi udara. Begitu melihat kehadiran Dara, Maya sempat tertegun sekilas melihat kecantikan dan wibawa nyata dari sang istri sah yang selama ini ia remehkan lewat cerita-cerita fiktifnya. Namun, dengan cepat Maya menegakkan tubuh, memasang senyuman sinis nan manipulatif yang seolah menantang.
Dara berhenti tepat di depan Maya. Bukan melabrak, memaki, atau menjambak dengan histeria murahan, Dara justru menatap Maya langsung ke dalam manik matanya dengan pandangan yang sangat tenang, pandangan seorang "detektif mental" yang tahu betul isi kepala lawannya.
"Selamat pagi, Maya," sapa Dara, suaranya mengalun sangat lembut namun memiliki penekanan yang membuat senyum sinis di wajah Maya mendadak kaku. "Terima kasih sudah menjaga 'laporan kerja' suamiku dengan sangat rapi di kantor ini. Tapi pagi ini, biarkan aku yang meluruskan sisa draf yang berantakan di dalam sana."