Spesimen Tanpa Wajah

Kinanthi (Nanik W)
Chapter #23

Bab 23 Godaan Ego

Dara melangkah keluar dari ruang HRD dengan langkah yang terasa begitu ringan. Pusaran badai di daratan telah ia taklukkan dengan martabat seorang wanita sejati, meninggalkan Arlan yang kini harus mendekam di dalam reruntuhan egonya sendiri. Malam di kamar hotel melati dekat bandara itu terasa begitu pengap, seolah-olah seluruh pasokan oksigen telah diisap keluar oleh penyesalan yang terlambat datang. Arlan duduk di tepi ranjang dengan seprai putih yang tampak kusam, menatap sepasang telapak tangannya yang gemetar. Suara bising dari mesin pendingin ruangan tua di sudut kamar berderik konstan, menyatu dengan detak jantungnya yang berpacu tak beraturan. Di ruangan sinis inilah, hanya beberapa hari sebelum badai di ruang HRD PT. Tama Perkasa menelanjanginya, Arlan kerap melarikan diri dari keteduhan apartemen Dara Kirana.

Namun, hotel ini bukan sekadar tempat singgah untuk meratapi nasib. Kamar bernomor 304 ini adalah saksi bisu dari sebuah kepatuhan buta atas nama ego patriarkis yang keliru.

Arlan memejamkan mata erat-erat, dan seketika itu juga, ingatan dua minggu lalu berputar kembali di kepalanya seperti draf film horor yang enggan ia tonton. Sebuah kilas balik yang paling ingin ia hapus dari sejarah hidupnya. Hari itu ia mengikatkan diri dalam sebuah pernikahan siri yang sunyi, tergesa-gesa, dan penuh dengan kepalsuan di bawah bimbingan seorang penghulu bayaran di pinggiran kota.

Semua itu bermula dari rayuan Maya yang dibungkus dengan sangat rapi.

"Mas Arlan, kalau kita terus-menerus lembur berdua di kantor, orang-orang akan mulai curiga," bisik Maya malam itu.

Dua minggu lalu, saat mereka pertama kali memutuskan untuk menginap bersama di hotel ini setelah menyelesaikan laporan logistik yang memusingkan. Maya duduk sangat dekat, aroma vanilla-jasmine-nya yang pekat mengunci akal sehat Arlan. "Aku tidak mau nama baikmu tercoreng, Mas. Apalagi kamu ini calon pewaris tunggal keluarga besarmu. Ayahmu yang keras itu pasti akan sangat kecewa kalau mendengar rumor miring tentang kita sebelum aset-aset itu resmi jatuh ke tanganmu."Maya menatapnya dengan binar mata yang sarat akan kalkulasi, meski bibirnya melengkungkan senyuman paling polos yang bisa ia ciptakan. "Demi menjaga kehormatanmu, Mas... dan agar kita bisa lebih tenang menyelesaikan semua tugas-tugas daratanmu tanpa beban dosa, bagaimana kalau kita halalkan saja hubungan ini secara siri? Hanya antara kita, penghulu, dan Allah. Jadi, saat kita menginap di sini untuk bekerja, tidak akan ada lagi rasa takut."

Arlan yang saat itu sedang sekarat di daratan, yang jiwanya kehausan akan pengakuan, langsung memakan umpan tersebut bulat-bulat. Kebohongannya tentang status "calon pewaris tunggal" yang ia ciptakan demi gengsi, kini justru berbalik menuntut korban yang lebih besar. Maya bersedia diajak menginap berdua, bahkan mendesak pernikahan siri, bukan karena ketulusan cinta, melainkan karena wanita itu mengira sedang mengunci tiket emas menuju takhta kekayaan keluarga Aditama. Maya sedang berinvestasi pada sebuah kebohongan yang ia sangka sebagai tambang emas, tapi sesungguhnya memuakkan bagi Arlan yang tak berdaya demi balas Budi.

Maka, terjadilah hari kelam itu. Di sebuah ruangan kecil yang pengap di rumah salah seorang rekan penghulu bayaran pilihan Maya, Arlan mengucapkan ijab kabul siri.

Namun, tidak ada kebahagiaan yang membuncah dalam dada Arlan saat kata "sah" meluncur dari bibir para saksi carikan yang disewa Maya. Sama sekali tidak ada. Perasaan Arlan malam itu campur aduk, hancur lebur menjadi serpihan emosi yang sangat menyiksa jiwanya. Sepanjang acara yang seharusnya sakral itu berlangsung, isi kepala Arlan justru dipenuhi oleh bayangan Dara Kirana.

Lihat selengkapnya