Lamunan Arlan bergeser pada sosok Maya, wanita yang kini statusnya adalah istri sirinya sekaligus rekan kerja yang ikut dipecat bersamanya hari ini. Ada rasa ngeri dan muak yang campur aduk saat ia menyadari betapa menjijikkannya jaring manipulasi yang telah mereka bangun bersama.
Melalui babak kelam ini, sebuah kebenaran besar tersingkap dengan benderang. Maya adalah representasi dari angan-angan palsu sebagian wanita yang terjebak dalam sifat materialistis atau 'matre'. Maya mendekatinya, merayunya, hingga mendesak pernikahan siri bukan karena ketulusan cinta pada sosok Arlan yang sedang jatuh. Tidak. Maya melakukan semua itu karena ia terpedaya oleh kebohongan gengsi yang ditiupkan Arlan tentang status "calon pewaris tunggal" kekayaan. Maya mengira ia sedang mengamankan masa depannya di atas penderitaan istri sah, tanpa tahu bahwa pria yang ia dekap erat-erat di kamar hotel melati ini sebenarnya hanyalah seorang lelaki daratan yang keropos dan berharap hasil dari ijazahnya, sama dengan Maya.
Keduanya bertemu dalam kondisi luka jiwa, sama-sama bekerja di tempat yang tak sesuai dengan ijazahnya, kemudian mencari lawan untuk diinjak-injak dan dipermalukan seperti kedalaman rasa malu mereka, yaitu Dara. Dara yang diinjak secara keroyokan oleh orang -orang yang tak dapat panggung atas ijazah dan kecerdasannya. Sementara itu, panggung kecerdasan linguistik Dara kian naik daun era ITdan AI ini. Meskipun tak selalu menangguk dolar, tapi pamer di media sosial sebagai pemilik kecerdasan linguistik memang bisa membuat mental yang tak siap kalah, akan tersayat, lalu main keroyok asal saja, demi meredupkannya. Ulah tak manusiawi yang tak mungkin dilakukan tanpa campur tangan iblis yang merasuki jiwa-jiwa modern itu. Apakah leluhur Dara pernah memiliki khodam yang kini meneruskan dendam kepada Dara melalui mereka yang kecewa pada hidupnya maupun yang enggan tertandingi? Bisa jadi. Ilmu manusia toh ibarat setitik air di samudra luas.
Kini, setelah ruang HRD membongkar semuanya dan memecat mereka secara tidak hormat, topeng Maya pasti akan pecah. Wanita itu akan sadar bahwa investasinya pada kebohongan Arlan berujung pada kebangkrutan total.mNamun, di atas rasa muaknya pada Maya, ketakutan terbesar Arlan saat ini tertuju pada Dara Kirana.
Arlan mencengkeram kepalanya sendiri, napasnya memburu dihantam serangan anxiety yang luar biasa hebat. Bayangan wajah Dara saat membongkar seluruh kebohongannya di depan Ibu Karina tadi pagi terus berputar, menguliti nuraninya yang tersisa. Dara tidak berteriak, Dara tidak mengamuk, tetapi ketenangan dan ketegasan istrinya justru memancarkan kekuatan mental yang begitu perkasa. Dara telah mengetahui semuanya: tentang kebohongannya di kantor, tentang rumor pantry, dan mungkin... tentang pernikahan sirinya yang nista.
"Dara..." rintih Arlan, air matanya akhirnya menetes, membasahi wajahnya yang kusam.
Rasa ngeri yang teramat sangat kini menjalar di sekujur tubuh Arlan. Ia sangat ngeri membayangkan jika batas sabar wanita salihah itu telah benar-benar habis. Ia takut jika Dara, wanita yang selama ini menjadi satu-satunya tempat pulang yang teduh, akan memandangnya dengan pandangan jijik dan penuh penghinaan. Ia ngeri jika kecerdasan linguistik Dara akan dituangkan dalam draf gugatan cerai yang akan mengakhiri hubungan mereka selamanya.
Arlan tersadar bahwa musuh terbesar dalam hidupnya bukan kegagalan maskapai Santara Air, bukan pula kelicikan Maya. Musuh terbesarnya adalah egonya sendiri. Ego patriarkis yang merasa harus selalu terlihat dominan dan enggan mengakui kelemahan di hadapan istri yang cerdas. Karena kecemasan (anxiety) dan rasa minder yang tidak dikelola dengan iman, ia telah menukar permata dengan kerikil tajam yang kini merobek telapak kakinya sendiri.