Spesimen Tanpa Wajah

Kinanthi (Nanik W)
Chapter #25

Bab 25 Labirin Dua Wanita


Malam di luar jendela apartemen bergerak lambat, namun di dalam kepala Arlan Aditama, badai sedang mengamuk tanpa suara. Di hadapannya, lembaran proposal bisnis pelatihan futsal dan aktivitas fisik anak-anak usia dini berserakan di atas meja. Ini adalah bidangnya.

Ini adalah dunia kinestetik murni tempat otot, refleks, dan keringatnya dihargai. Namun, ironisnya, modal utama untuk membangun bisnis mandiri ini keluar dari rekening Dara, istri yang baru saja ia khianati.

Arlan memijit pelipisnya yang berdenyut. Pikirannya mendadak mundur ke masa kecilnya yang rumpang. Sebagai anak tengah, Arlan selalu menjadi bayang-bayang di rumah. Didikan ibunya yang keras dan perfeksionis menuntutnya untuk menjadi sosok yang logis-matematis, persis seperti kakak sulungnya yang selalu dipuja karena angka-angka rapor yang sempurna.

Di mata ibunya, kecerdasan kinestetik Arlan di lapangan basket atau arena silat hanyalah "modal otot" yang tidak punya masa depan. Menjadi pilot adalah cara Arlan mematahkan kutukan itu; sebuah pembuktian tertinggi bahwa ia bisa menguasai langit.

Maka, ketika maskapainya bangkrut dan ia di-PHK, seluruh harga dirinya runtuh. Ia kembali menjadi anak tengah yang tidak berharga di matanya sendiri.

Dara sebenarnya adalah oasis. Sejak mereka menikah, baik saat Arlan masih berjaya di udara dengan gaji ribuan dolar maupun saat terpuruk menjadi pengangguran, Dara selalu sabar. Ia tidak pernah menuntut, tidak pernah nyinyir, dan tetap memperlakukan Arlan dengan penghormatan yang utuh. Namun, ketenangan Dara justru memicu insecurity yang akut pada diri Arlan.

Ego patriarkisnya menolak dikasihani oleh istri yang lebih mapan secara intelektual dan finansial. Demi melarikan diri dari rasa kerdil itu, Arlan nekat mengambil pekerjaan kantoran yang sama sekali bertolak belakang dengan ijazah dan jiwanya. Pekerjaan administratif yang membosankan itu menyiksanya, hingga ia menemukan Maya.

Lihat selengkapnya