Maya membaca keretakan jiwa Arlan dengan sangat jeli. Berbeda dengan Dara yang menuntut kedalaman berpikir dan etika yang tinggi, Maya datang dengan pendekatan yang sangat primitif namun efektif bagi lelaki yang sedang sekarat egonya. Maya bersikap sok mengabdi dan sok melayani. Di kubikel kantor, Maya memosisikan diri sebagai bawahan yang amat penurut, yang selalu memuji keputusan Arlan, dan dengan agresif mengambil alih tugas-tugas Excel yang membuat Arlan frustrasi. Maya pun memamerkan hal yang baginya kontradiktif dengan Dara, yaitu rela melebur dalam jati diri Arlan, namun masih mencari pekerjaan kendati tak pernah sesuai dengan ijazahnya. Itu karena uang belanja Arlan sedikit. Betapa ia ingin Arlan segera menumpahkan semua gaji dolar ke pangkuannya. Dengan demikian, ia bisa segera goleran seharian daripada bekerja tak sesuai ijazah, yang membuatnya tetap kalah dari Dara, wanita yang telah disikutnya.
Di dekat Maya, Arlan mendadak merasa tenang dan aman dari monster insecurity-nya. Maya tidak membuatnya merasa kerdil; Maya justru membuatnya merasa kembali menjadi "Kapten" yang berkuasa, pangeran yang sedang menyamar sebagai calon pewaris tunggal. Arlan memejamkan mata, meratapi ulahnya. Ia ingat bagaimana ia merasa terjebak di antara dua wanita itu. Di satu sisi, ada Dara Kirana, jangkar moralitas dan kehormatan sejatinya yang ia kagumi namun membuatnya merasa tertekan karena aktivitas kecerdasan linguistiknya. Di sisi lain, ada Maya, pelarian yang memberikannya rasa aman palsu dari kecemasan daratan, yang agresivitasnya ia gunakan sebagai tameng untuk bersembunyi dari kenyataan.
Setelah badai di ruang HRD meremukkan segalanya, Arlan sadar bahwa jebakan itu adalah ilusinya sendiri. Maya mendekatinya demi iming-iming gaji dolar yang pasti akan diupayakan demi Maya tercinta. Sementara itu, Dara yang tulus menghargainya, yang tak pernah menuntut apa pun, telah disakitinya hingga ke batas sabar terdalam. Arlan terperangkap di kedua dunianya, terdampar di lantai hotel melati sebagai anak tengah yang kembali kalah. Kali ini bukan karena takdir, melainkan karena egonya sendiri yang memilih jalan kehancuran.
Dalam kamar hotel melati yang kian terasa sempit oleh himpitan penyesalan, Arlan kembali terlempar pada ingatan-ingatan kecil di kubikel kantor PT. Tama Perkasa. Ia tidak bisa mengingkari bahwa pada mulanya, sikap Maya yang cekatan dalam menangani tumpukan manifest operasional, pengabdian totalnya, telah memberikan ketenangan semu bagi jiwanya yang compang-camping. Namun, ketenangan itu perlahan-lahan berubah menjadi sebuah beban baru. Beban yang mengacaukan hati, yaitu beban tuntutan untuk harus pamer ke media sosial sebagai lelaki bergaji dolar, jika masih ingin diakui sebagai suami. Meskipun lagaknya tidak mau berteman di media sosial, tapi Arlan bersujud memohon agar ulahnya itu dimaklumi demi perasaan Dara, hingga saatnya tiba untuk diceraikannya. Padahal yang terjadi sesungguhnya, Dara pasti akan menceraikannya jika ia memutuskan memilih Maya. Sungguh manipulatif akibat takdir sebagai anak tengah yang merana.
Manakala Maya meletakkan secangkir kopi di mejanya, mata wanita muda itu selalu menatapnya dengan binar yang menyimpan ambisi. Di balik kekaguman Maya pada ijazah dan seragam pilot yang kini tersimpan bisu di lemari apartemen, selalu terselip kalimat-kalimat yang bagi Arlan terdengar seperti tuntutan tak kasatmata.
"Mas Arlan yang gagah begini tidak boleh selamanya terdampar di daratan," bisik Maya suatu siang, sembari merapikan berkas logistik di depan Arlan. "Aku selalu menyisipkan harapan dan doa di setiap sujudku, Mas, agar kelak suatu hari nanti kamu kembali memakai seragam putih itu, kembali mengudara, dan menguasai panggung langit lagi. Pria sehebat kamu terlalu mewah untuk kubikel sumpek ini."
Kalimat itu diniatkan Maya sebagai bentuk dukungan seorang kekasih. Namun, bagi Arlan yang jiwanya sedang didera kecemasan (anxiety) akut pasca-kebangkrutan Santara Air, doa Maya justru terasa seperti sebuah teror psikologis. Setiap kata 'kembali jadi pilot' yang diucapkan Maya seolah-olah menjadi pengingat yang kejam bahwa dirinya, yang sedang terduduk lesu menghadapi angka-angka logistik, adalah seorang pria gagal yang belum memenuhi standar ideal universal. Arlan merasa risih, merasa dikejar-kejar oleh sebuah ekspektasi yang ia sendiri tidak tahu kapan bisa mewujudkan kembali di tengah lesunya industri penerbangan.
Kontras dengan kebisingan ekspektasi yang ditiupkan Maya, rumah tangganya bersama Dara Kirana berjalan dalam kesunyian yang teramat dalam. Namun, Arlan baru menyadari betapa kesunyian Dara sebenarnya adalah bentuk perlindungan tertinggi bagi harga dirinya. Dara tidak pernah membahas tentang kapan Arlan akan kembali terbang. Mantan Duta Literasi itu tidak pernah cerewet menanyakan masa depan kariernya setelah Santara Air dinyatakan pailit. Sejak awal pernikahan mereka, Dara adalah wanita yang menempatkan materi di bawah etika. Diberi belanja atau tidak, Dara diam saja. Saat Arlan masih berjaya sebagai pilot dengan gaji puluhan juta, Dara tidak pernah bertanya berapa digit angka yang masuk ke rekening suaminya. Ia tidak pernah menuntut tas-tas bermerk atau kemewahan instan sebagai oleh-oleh. Yang penting suaminya pulang. Matanya berbinar ceria. Kesabaran yang justru dimanfaatkan Arlan untuk memuaskan naluri kinestetik yang tak bisa tenang tanpa dikelilingi banyak wanita.