Spesimen Tanpa Wajah

Kinanthi (Nanik W)
Chapter #26

Bab 26 Labirin Emosi

Maya membaca keretakan jiwa Arlan dengan sangat jeli. Berbeda dengan Dara yang menuntut kedalaman berpikir dan etika yang tinggi, Maya datang dengan pendekatan yang sangat primitif namun efektif bagi lelaki yang sedang sekarat egonya: Maya bersikap sok mengabdi dan sok melayani. Di kubikel kantor, Maya memposisikan diri sebagai bawahan yang amat penurut, yang selalu memuji keputusan Arlan, dan dengan agresif mengambil alih tugas-tugas Excel yang membuat Arlan frustrasi.

Di dekat Maya, Arlan mendadak merasa tenang dan aman dari monster insecurity-nya. Maya tidak membuatnya merasa kerdil; Maya justru membuatnya merasa kembali menjadi "Kapten" yang berkuasa, pangeran yang sedang menyamar sebagai calon pewaris tunggal.

Arlan memejamkan mata, meratapi kebingungannya. Ia ingat bagaimana beberapa minggu terakhir ini ia sempat merasa terjebak di antara dua wanita itu. Di satu sisi, ada Dara Kirana, jangkar moralitas dan kehormatan sejatinya yang sangat ia kagumi namun membuatnya merasa tertekan karena ketulusan cintanya. Di sisi lain, ada Maya, pelarian yang memberikannya rasa aman palsu dari kecemasan daratan, yang agresivitasnya ia gunakan sebagai tameng untuk bersembunyi dari kenyataan.

Kini, setelah badai di ruang HRD meremukkan segalanya, Arlan sadar bahwa jebakan itu adalah ilusinya sendiri. Maya mendekatinya demi warisan fiktif yang ia karang sendiri, sementara Dara yang tulus menghargainya kini telah ia sakiti hingga ke batas sabar terdalam. Arlan merasa terdampar sebagai anak tengah yang kembali kalah. Kalah kali ini bukan karena takdir, melainkan karena egonya sendiri yang memilih jalan kehancuran.

Arlan mengingat bagaimana setiap obrolan intim bersama Maya di hotel ini tidak pernah lepas dari sebuah jargon yang kini terdengar memuakkan di telinganya.

"Wanita adalah suporter hebat lelaki menuju puncak karier, Mas," ujar Maya sembari menyandarkan kepalanya di bahu Arlan. "Aku ada di sini untuk memastikan kamu kembali menjadi orang besar. Lelaki sukses itu dinilai dari seberapa tinggi ia bisa memamerkan takhtanya pada dunia."

Kalimat-kalimat dari bibir Maya yang dilapisi wangi vanilla-jasmine itu kini terdengar seperti sebuah ancaman terselubung bagi Arlan. Jiwa "detektif mental"-nya yang tertular dari kecerdasan Dara mulai membaca draf tersirat di balik kata-kata Maya.

Arlan tersadar, ia tidak mungkin bisa dicintai secara ugal-ugalan oleh Maya jika ia tidak memamerkan warisan fiktif agar Maya bersemangat mengerjakan laporan administrasi yang membosankan itu. Laporan yang menuntutnya duduk berlama-lama untuk menyalin dan mencocokkan data-data buatan orang lain. Betapa membosankan. Naluri kinestetiknya meronta. Ia teringat Dara.

Dara sebagai pengajar pun mengaku bosan ketika mengerjakan penilaian. Inginnya diberi nilai bagus semua toh mereka manusia yang bisa berubah menjadi lebih baik. Arlan pun tersenyum.

Dara dengan ledakan emosinya, sebagai penulis sejati, tak pernah menyimpan amarah sampai berkarat, bahkan menghindari memvonis orang lain dengan kejam tanpa mewawancarai dan mengamati kebiasaan kedua sisi yang tengah bermasalah.

Dara tak pernah memancing-mancing orang lain dengan prasangka buruk yang belum pernah dilakukan orang tersebut. Ia cukup mengamati perilaku dari kebiasaan yang telah menjadi rekam jejaknya.

Bagaimanapun, manusia yang masih mau berpijak pada norma, akan memiliki "aku ideal" demi reputasi dan kepatuhan terhadap aturan hukum agama dan negara pilihannya. Jika mau jujur, kepatuhan pada aturan itulah kebahagiaan sejati, karena telah berhasil melawan nafsu.

Itulah yang diujicobakan Tuhan terhadap Sang Khalifah. Sanggupkah mengendalikan diri sendiri? Lalu berlanjut menuju sanggupkah mengendalikan orang lain, agar kekhalifahannya berfungsi maksimal?

Lihat selengkapnya