Bhanu Srengenge menatap bapaknya larut di dalam kesedihan. Meskipun tidak menjadi-jadi dan malah cenderung terlihat tenang, tetapi semuda itu saja Bhanu tahu bahwa gejolak rasa di dalam tubuh bapaknya yang membungkuk itu pastilah dahsyat.
Sorban yang dikenakan sang bapak lepas sebagian simpulnya, jatuh ke sisi wajahnya dengan lemas seperti mayat anak perempuannya yang belum lama dilahirkan tersebut. Air mata menetes dari satu matanya, mengalir lembut dan jatuh ke atas tikar pandan. Si bayi berada di dalam pelukan sang bapak, ditatap dalam-dalam oleh sepasang mata yang berkaca-kaca itu.
Bhanu berumur sepuluh tahun ketika ia kehilangan adik perempuannya. Bayi itu meninggal karena sakit, kurang gizi, cukup wajar di masa itu. Setiap keluarga di desanya paling jelek pernah mengalami kematian salah satu anak di usia muda. Entah mana yang lebih baik, mati keguguran di dalam kandungan, mati bayi dan kanak-kanak karena penyakit, atau mati remaja karena kelaparan.
Namun, ini bukan hal biasa bagi seorang Satrio Dipuro, salah satu ulama agama Islam yang dihormati di desa itu. Semua penduduk desa tahu bahwa Kyai Satrio sudah lama mendambakan seorang anak perempuan.
Sugito, anak pertamanya, berumur enam belas tahun. Jangkung, berwajah keras, cerdas dan bersifat dewasa. Adik laki-lakinya, Bhanu, berwajah manis dan ceria, serta cukup dekat dengannya. Satu anak laki-laki lagi, Riyandi, masih berusia dua tahun, tidak banyak tahu soal bagaimana cara dunia bekerja. Yang jelas, Riyandi sadar bahwa terjadi kegemparan di rumahnya. Banyak orang yang datang, bahkan teman-teman sepermainannya di tegalan sawah juga ikut hadir. Yang ia tahu, bayi perempuan yang beberapa hari terakhir itu menangis terus di rumahnya, kini sudah tak bersuara sama sekali lagi.
Aroma minyak kayu putih bercampur dengan bunga melati.
Bayi perempuan itu terlihat sangat kecil di mata Bhanu, terbungkus kain putih yang dilipat oleh ibu, tak terlepas dari pelukan Satrio.
Beberapa kali seorang laki-laki seusia Satrio berdehem di ruang depan. Janggutnya putih, sorbannya dililit rapi.
“Sudah waktunya dimakamkan,” ujarnya.
Tidak ada jawaban dari Satrio.
Seorang lagi, juga dengan ciri busana serupa berbicara dengan lebih tegas. “Jenazah tidak boleh lama di rumah.”
Namun, Bhanu melihat sang bapak masih menatap wajah bayi mungil itu. Tangan Satrio menyentuh pipi mungilnya yang sudah dingin. “Sebentar lagi,” katanya pelan.
Waktu terus berjalan. Matahari sudah condong ke barat ketika satu suara dari ruangan depan ikut meninggi.
“Apa kamu tidak ingat hukum agama?”
“Aku ingat,” jawab Satrio. “Tapi, dia anakku.”
Ruangan mendadak menjadi sunyi.
Seorang ulama berdiri. Ia terlihat sudah tak sabar lagi.
“Kamu harus memilih, Kyai Satrio. Agama, atau anakmu?”