Keluarga Satrio Dipuro bukan keluarga terkaya di desa, tetapi jelas mereka sangat dihormati. Ayah Satrio, kakek Bhanu, yang bernama Brotojoyo bekerja sebagai seorang abdi dalem keraton Yogyakarta. Brotojoyo ditempatkan di istal keraton sebagai pengurus kuda sekaligus kadang ikut mempersiapkan kereta kuda kerajaan sebagai iring-iringan upacara tertentu.
Brotojoyo dihormati di seluruh Wadirejo. Sebagai abdi dalem, tentu ia dianggap dipercaya oleh keraton, berhubungan langsung dengan pusat budaya dan peradaban Jawa. Gajinya kecil, tetapi tetap saja memiliki kebanggaan dan kedudukan sosial yang cukup tinggi di desa.
Ketika hidup, ia menjadikan keluarganya dimaknai. Pun ketika ia telah mati.
Brotojoyo tewas ditembak Belanda.
Bhanu mendengar cerita itu dari sang ayah.
“Aku hanya ingat bahwa sewaktu kecil, aku sering digendong Mbah Kakung dan ditempelkan di dadanya yang berbulu lebat itu. Hangat rasanya,” kata Bhanu kepada Satrio.
Satrio terkekeh. “Mbah Kakungmu itu bertubuh besar, berbulu, bersuara menggelegar seperti guntur. Orang-orang desa kerap mengatakan bahwa bapakku itu seperti Wrekodara, sang Bima. Bedanya, meski bertubuh besar, berwajah sangar, dan bersuara menggelegar, Bapak berturur kata baik dan sopan. Itu karena Mbah Kakungmu itu adalah seorang abdi dalem keraton.”
“Lalu, mengapa Belanda menembak Simbah?” tanya Srengenge kecil.
Saat itu, Satrio berusaha menggunakan kata-kata yang paling pas untuk menjelaskan kejadian itu kepada anaknya.
Brotojoyo adalah orang Jawa tulen. Ia menyerap tindak tanduk, budaya, dan falsafah hidup Jawa dengan segenap jiwanya. Namun, di saat yang sama, saking Jawanya, ia tidak bisa menerima beberapa hal yang menurutnya sudah diluar kewajaran.
“Sudah bertahun-tahun Bapak jadi abdi dalem di kandang jaran[1], bahkan kuda pun punya tatakrama. Tidak seperti orang-orang londo itu yang berangasan dan sama sekali tidak punya aturan,” katanya beberapa kali kepada Satrio anaknya.
Itu sebabnya, suatu saat di hari berhujan, Brotojoyo tak mampu menahan amarahnya lagi ketika sekelompok serdadu Belanda mengejek tata cara dan ritual bersih desa. Ia berteriak, memukul dadanya bagai seekor kera besar dan menantang para serdadu untuk bertarung.
Malang nasibnya. Pertikaian itu melebar menjadi apa yang dilaporkan kelak sebagai ‘kesalahpahaman’ sehingga moncong bedil seorang serdadu menempel ke kepalanya sebelum diledakkan keras.
Rata-rata nama orang Jawa di masa itu tidak banyak yang nyeleneh. Apalagi warga desa Wadipuro yang rata-rata orang miskin atau paling tidak kelas menengah.
Namun, ini tidak berlaku bagi nama Brotojoyo yang sudah terdengar megah di masa itu, dan dia berani memberikan nama anak laki-lakinya dengan menggunakan dua kata: Satrio Dipuro. Kebanggaan sebagai seorang abdi dalem memang melekat di jiwanya.
Sebaliknya, Satrio tidak melanjutkan keberanian sang mendiang ayahnya itu. Bahkan, nama asli Bhanu awalnya adalah Ngadiman, nama yang awam digunakan orang Jawa kelas menengah ke bawah saat itu. Di Wadipuro, nama bukanlah perkara yang harus dicari jauh-jauh atau dipikirkan berhari-hari. Orang-orang desa memberi nama seperti mereka menandai musim tanam atau hari pasaran, sederhana, dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan mudah diingat.