Anak itu perempuan.
Satrio merasa perlu melakukan ritual ruwatan agar kali ini anak perempuan yang sudah diingin-inginkannya selama ini tetap bisa hidup.
Apa sebenarnya dasar dari pemikiran Satrio ini? Mungkin hanya karena ia orang Jawa, mungkin juga agak secara psikologis ia dapar memiliki semangat dan harapan untuk menjaga si anak perempuan dengan baik.
Sugito, Bhanu, dan Riyandi yang telah berumur lima tahun itu, bersama Simbok mereka, menerima saja keputusan itu. Toh, mereka memang telah hidup di dalam budaya dimana nasib buruk, bala, dan nasib sial dapat dihindari dan ditolak sejauh-jauhnya.
Bayi perempuan itu dibungkus dengan jarit batik kemudian diletakkan di depan pintu rumah. Satrio mengenakan kebaya dan jarit milik istrinya yang lumayan pas karena ia juga bertubuh ramping. Tidak lupa ia menutupi kepalanya dengan selendang sebagai kerudung. Pupur tebal dipadatkan di seantero wajah, membuat Riyandi hampir meledak tertawa bila tidak dipelototi oleh simboknya.
Satrio membuka pintu, kemudian pura-pura terkejut ketika mendapati bungkusan aneh di depan pintu rumahnya.
“Aduh, ada bungkusan apa ini? Kok ya diletakkan di depan rumahku?” katanya dalam nada suara perempuan melengking kenes yang sengaja dibuat-buat.
Kini Sugito dan Bhanu yang setengah mati menahan tawa dengan memegang perut mareka.
“Makanan apa pakaian ini? Punya siapa?” ujar Satrio kembali.
Ia menunduk dan menggendong bungkusan bayi perempuannya itu sendiri, kemudian kembali pura-pura terperanjat.
“Aduh Gusti. Lucu sekali bayi ini. Perempuan pula. Siapa orang tua yang berani-beraninya membuang bayi ke depan rumahku? Malang sekali nasibmu, nak. Mulai sekarang, akan aku angkat kamu menjadi anakku, anak kandungku.”
Begitu ritual yang dilakukan keluarga Satrio secara mandiri. Tujuannya membingungkan Batara Kala, sosok yang dipercaya oleh orang Jawa mengambil anak manusia untuk dijadikannya makanan.
Uniknya, Batara Kala hanya mengambil anak-anak dengan syarat-syarat dan keadaan tertentu. Ia bertindak masih di dalam koridor hukum yang tak bisa ia langgar. Inilah cela yang dimainkan oleh Satrio. Ia menipu Batara Kala agar tidak melihat bayi perempuannya itu sebagai anak kandungnya. Apalagi, Satrio menyamar sebagai seorang perempuan. Lengkaplah kebingungan sang raksasa gaib itu.
Sungguh, mungkin Batara Kala memang sungguh dibuat linglung. Ia membiarkan bayi itu dan tidak memangsanya. Suryani tumbuh menjadi anak perempuan yang sehat, meski kurus, tetapi tidak sakit-sakitan seperti Bhanu dulu.
“Anggap saja ruwatan ini berhasil. Anggap saja Bapa di Surga yang memberikan berkat kepada keluarga kita demi melihat Bapak begitu sayang dengan adik kita bahkan berani melepaskan agamanya untuk mencoba memahami dan mengenal Tuhan Yesus dengan lebih baik,” ujar Sugito kepada Bhanu.
***