Srengenge

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #4

Dunia Diletakkan di Atas Nampan

Lebih banyak murid perempuan dibanding murid laki-laki di SPSA Hati Maria dimana Bhanu bersekolah. Teman-teman desanya kerap mengejek Bhanu karenanya.

“Sekolah kok di asrama perempuan,” kata mereka.

Bhanu tidak merasa aneh apalagi bermasalah. Ia senang-senang saja. Yang ia butuhkan ilmunya, bukan seberapa banyak teman laki-laki yang bergaul dengannya di sekolah.

Masalahnya, ia juga sering djadikan pusat ejekan oleh teman-teman perempuan di dalam kelasnya sendiri. memang bukan bukan berupa cemoohan yang membuatnya sakit hati atau terhina, hanya malu.

“Aduh, aduh, kalau sudah jodoh memang ndak kemana. Bhanurasmi melengkapi Bhanu,” ujar Sri dengan suara melengkingnya yang sangat mengganggu itu.

Sosok yang bernama Bhanurasmi menunduk malu-malu. Rambut hitam ikalnya jatuh menutupi wajahnya. Ia tidak keberatan dijodoh-jodohkan dengan Bhanu, salah satu tiga murid cowok di kelasnya yang paling ganteng itu.

Memang hanya ada tiga murid laki-laki di kelas 2 menengah atas ini. Namun, bukan berarti karena tidak banyak murid laki-laki yang bisa dibandingkan dengan Bhanu yang membuat laki-laki itu terlihat ganteng, tetapi memang karena Bhanu memang sungguh ganteng. Paling tidak begitu pendapat banyak murid perempuan di sekolah ini.

Kulit Bhanu memang gelap, khas laki-laki Jawa, tapi hitam manis, kata Sri. Hidungnya mancung, wajahnya oval dan tegas, serta sepasang matanya tajam. Uniknya, sifat dan pembawaan Bhanu cenderung tenang tetapi ramah dan bersahabat.

Bhanu agak gerah sebenarnya ketika harus hampir selalu dihubung-hubungkan dengan Bhanurasmi hanya karena nama mereka mirip. Meskipun Bhanu juga tidak punya masalah nyata mengenai hal ini, tidak ada ketidaksenangan dengan Bhanurasmi, apalagi sampai benci. Lagipula, wajar-wajar saja tindakan teman-teman perempuannya yang mengejek serta seakan menjodoh-jodohkannya dengan Bhanurasmi.

Bhanu tidak nyaman saja.

Ketika sudah saatnya bagi Bhanu untuk memiliki kartu identitas sendiri, terpercik sebuah ide untuk memberikan namanya tambahan. Di kala itu, orang yang memiliki kesadaran dapat melakukan hal-hal administratif kenegaraan secara mandiri, termasuk dalam hal identitas. Negara ini masih bisa dianggap masih muda, remaja hitungannya, sedikit saja lebih tua dari Bhanu.

Memang mungkin alasan untuk menambahkan nama terkesan lucu, Bhanu tidak mau disamakan dengan Bhanurasmi. Tapi, mau bagaimana lagi. Ia memang ingin menambahkan nama di belakang nama pemberian orang tuanya itu.

Srengenge kemudian diambil karena Bhanu ingin menyelaraskannya dengan Bhanu. Srengenge berarti matahari di dalam bahasa Jawa, yang mana serupa dengan bhanu yang artinya cahaya. Awalnya, ia ingin menggunakan nama Surya yang juga berarti matahari, tetapi sudah ada murid perempuan bernama Suryani di kelasnya, sama seperti nama adik perempuannya

Maka, Bhanu Srengenge-lah nama lengkap yang tertera di kartu identitasnya.

 

***

 

Sebelum Sugito berangkat ke Irian Jaya, kakak laki-laki dan anak tertua keluarga Satrio Dipuro itu bergegas terlebih dahulu mengurus pembabtisan Bhanu.

Lihat selengkapnya