Prasetya Ningsih berdarah biru. Ia putri dari seorang penghageng[1] keraton Pakualaman di Yogyakarta. Ayahnya itu juga menjabat sebagai pegawai administrasi pemerintah daerah. Bukan sekadar abdi dalem biasa seperti mendiang kakek buyut Brotojoyo, melainkan salah satu orang penting yang bertanggung jawab mengurusi arsip atau silsilah kerajaan karena sang ayah masih keturunan Bendara[2] kerajaan.
Sebab masih memiliki trah keraton, keluarga Prasetya juga bertempat tinggal di ndalem, alias kompleks rumah di dalam lingkungan keraton yang diperuntukkan bagi para keluarga bangsawan.
Sewaktu sekolah di SPSA Hati Maria dahulu, Prasetya sudah cukup mengetahui Bhanu.
Lagipula, siapa yang tidak mengetahuinya? Tidak banyak siswa laki-laki di sekolah itu, baik dari tingkat bawah ataupun atas. Selain itu, Bhanu yang memiliki paras tampan tidak mungkin untuk luput dari perhatian mayoritas murid perempuan di sana.
Akan tetapi, keduanya tidak pernah benar-benar terlibat dalam percakapan panjang dan interaksi intens. Sekadar sapa atau saling bertanya mengenai satu dua informasi sekolah, apalagi keduanya berlainan kelas.
“Kamu sudah lama jualan koran di kios itu, Nu?” tanya Prasetya.
Hari itu, Minggu pagi, sepulang dari gereja Santo Fransiskus Xaverius, yang juga dikenal dengan Gereja Kidul Loji, Bhanu dan Prasetya berjalan kaki beriringan. Gereja Katolik yang telah dibangun pada tahun 1871 di masa pemerintahan Hindia Belanda itu terletak tidak jauh dari jalan Malioboro dimana kios koran tempat Bhanu bekerja berada.
“Sudah satu bulan lebih, sih. Pas kita ketemu dulu itu, tepat satu bulan aku kerja di sana,” balas Bhanu.
Pak Robi mengizinkan Bhanu untuk pergi beribadah ke gereja dahulu di Minggu pagi sebelum datang ke kiosnya.
“Lucunya, kok aku ndak pernah lihat kamu di gereja, ya?” tanya Bhanu kemudian.
Prasetya tersenyum lebar. “Pertama, kamu kan baru sembahyang di gereja itu sebulan terakhir ini, karena pas kebetulan dekat dengan kios. Kedua, kamu memang ndak pernah memperhatikan aku kok selama ini.”
Bhanu mendadak terdiam.
Prasetya yang kini malah tertawa. “Bercanda, Nu, bercanda.”
Prasetya Ningsih bukan gadis yang terlalu cantik. Manis memang, pas saja. Kulitnya kuning langsat, terawat, ciri khas gadis keturunan trah Mataram.
Apa yang ia ucapkan tadi walau diakui sebagai candaan belaka nyatanya mengandung kebenaran. Bhanu sebelumnya tidak begitu memperhatikan Prasetya walau bersekolah di tempat yang sama. Sebaliknya, Prasetya sudah sedari awal mengikuti gerak-gerik Bhanu. Memang banyak siswi Hati Maria menggarisbawahi ketampanan Bhanu sebagai identifikasi utamanya, tetapi Prasetya lebih melihat Bhanu sebagai sosok murid laki-laki sekolah mereka yang pandai dan gemar sekali membaca.
Prasetya diam-diam tahu bahwa Bhanu mahir di bidang ilmu bumi, geografi nama lainnya di masa depan. Bhanu juga sering terlihat di perpustakaan sekolah, menimbun dirinya dengan buku-buku yang berhubungan dengan peta dunia, termasuk atlas.
Bhanu jelas bukan murid terpintar dan paling berprestasi di sekolah, tapi Prasetya sudah mencap sosok itu sebagai laki-laki yang cerdas dan penuh pengetahuan, dan memang ganteng juga. Harus diakuinya.
Bhanu meringis medengar candaan Prasetya.
“Tapi sekarang aku memperhatikan kamu jadinya, tho?”
“Weleh, weleh … si Bhanu rupanya pandai menggoda nan merayu pula, ya.”