Srengenge

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #6

Menjadi Baik adalah Hal yang Baik

Dari kulit luar secara kasat mata, siapa pun dapat melihat bahwa hubungan asmara Bhanu dan Prasetya begitu ideal, manis, dan harmonis. Saking hampir sempurnanya, bila keduanya adalah sepasang selebritas, maka mereka akan diberikan gelar Bhasetya, Bhanu Prasetya. Mereka adalah dua sosok pemuda dan pemudi yang tenang, kalem, bertutur kata teratur nan terarah, sopan, bertingkah laku terpuji, serta sama-sama suka membaca. Entah membaca buku, entah saling membaca hati.

Hanya saja, untuk urusan terakhir, Prasetya nampaknya tidak mampu mengamati apa yang sedang bergejolak di hati kekasihnya itu.

Sudah setahun mereka berpacaran. Bhanu sudah tidak tinggal di rumahnya. Ia merasa sudah terlalu tua untuk menempel di rumah bapaknya itu, walau tiada keberatan sama sekali dari kedua orang tuanya. Namun, Riyandi sudah beranjak remaja, kanak-kanak Suryani juga sudah semakin membuat rumah menjadi ramai nan ceria. Ditinggal Sugito dan dirinya tak akan membuat rumah itu sepi. Lagipula, alasan kata-kata Paklik Wiryo yang disampaikan ke telinganya melalui alam itu masih begitu membekas di dalam hatinya. Sudah lama ia hendak meninggalkan Wadipuro yang sudah tak terasa rumah baginya.

Satrio, sang bapak, melinting mbako, tingwe[1], di pekarangan depan rumahnya. Ia duduk bersebelahan dengan Bhanu. Satrio melirik anak laki-laki nomer duanya itu, kemudian menawarkan rokok racikannya.

Bhanu menggeleng.

Satrio tahu Bhanu sudah mulai merokok. Bhanu tahu bapaknya tahu bahwa ia sudah mulai merokok. Tapi, ia ragu bapaknya tahu bahwa ia tidak terlalu suka merokok. Rokok baginya sekadar alat komunikasi sosial belaka bila terpaksa nongkrong dengan orang sehingga bahan obrolan dapat mengalir alamiah.

“Kamu masih bekerja di kios koran, le?” tanya Satrio. Ia belum memantikkan mancis untuk membakar ujung mbako tingwenya. Batang tembakau itu masih terselip diantara jari telunjuk dan tengahnya.

“Masih, Pak. Tapi aku juga kerja di tempat lain, Balai Pembinaan Sosial. Ada asrama buat para pegawainya yang rata-rata juga dari sekolahku dulu, Pak, SPSA. Jadi, aku memutuskan untuk tinggal di asrama.”

“Wah, apik itu. Bagus, bagus. Kerja kantoran? Harus, harus.”

Bhanu meringis. “Ya ndak kantoran juga, Pak. Malah aku kerja lapangan, pergi kemana-mana buat urusan penyuluhan, nyatet-nyatet juga, Pak. Bukan pegawai negeri seperti Bapak.”

Satrio terkekeh. “Belum. Nanti kamu pasti lebih baik dari Bapak. Sekarang saja sudah, kok. Ndak perlu angkat bata, menek[2] tiang listrik, atau nyangkul di sawah.”

Bhanu tahu bapaknya sekadar memuji. Itu memang sifat Satrio yang ia suka, selalu berpikir positif dan sabar luar biasa. Satrio memiliki pembawaan yang jauh lebih tenang dibanding dirinya, dibanding siapa pun di Wadirejo.

Ngapunten [3] aku belum bisa benar-benar buat bangga bapak dan ibu seperti Kang Gito yang sudah di Irian. Aku sementara baru bisa keluar kampung, bukan keluar Jawa,” ujar Bhanu.

Satrio menjepit mbako itu di ujung bibirnya sehingga ia masih bisa bicara.

“Ndak usah membanding-bandingkan seperti itu, tho, Nu. Kapan Bapak ndak bangga sama kamu. Nanti Bapak akan lebih bangga lagi kalau kamu bisa menikah dan mengurus anak istrimu. Sama juga seperti Gito. Kalau dia berhasil di Irian sana, ya keberhasilannya untuk anak cucunya nanti. Sama seperti Bapak yang merasa berhasil kalau kamu bisa mengurus diri sendiri. Tidak sampai bikin Bapak dan Simbok kepikiran saja sudah bagus, apalagi nanti bisa kasih makan anak orang.”

Ah, Bhanu selalu senang berbicara dengan bapak. Satrio tidak pernah mengerdilkan hatinya, menghancurkan harapannya, atau membakar keinginannya. Berbeda dengan Simbok Sri Murni yang menggerutu dengan mulutnya yang selalu penuh dengan sirih itu, Satrio seperti tidak ada masalah dengan dunia.

Meski keberangkatan Bhanu meninggalkan rumah tidak menimbulkan masalah, masih ada satu hal yang mengganjal hatinya, dan masalahnya lagi ia tahu bahwa Satrio tahu itu tetapi sengaja tidak pernah mengungkitnya. Bhanu tidak merasa nyaman karena desas-desus berumur tahunan mengenai seorang anak laki-laki tiga belas tahun yang menjual sawah keluarganya masih mengambang di udara desa.

Tapi, mungkin dengan adanya kusak-kusuk dalam diam yang membicarakan dirinya dari balik punggung itu, Bhanu dapat berpikir dengan lebih serius mengenai masa depan.

Lihat selengkapnya