Prasetya Ningsih memberikan Bhanu Srengenge harapan, penghargaan, dan rasa hormat. Sedangkan Bhanu memberikan Prasetya apa yang gadis itu harapkan, yaitu perhatian dan kasih sayang.
Itu yang terlihat kasat mata.
Semua teman-teman Prasetya maupun Bhanu semasa masih sekolah dulu kini sudah mengetahui bahwa keduanya telah menjadi sepasang kekasih. Tidak terkecuali Bhanurasmi yang dahulu kerap dibercandakan dan dijodoh-jodohan dengan Bhanu. Suatu kala pada pertemuan reuni sekolah, murid-murid menjadi saksi nyata kehadiran keduanya yang seperti diselimuti asmara menggantung di punggung.
Tidak ada yang keberatan. Mungkin sedikit terkejut karena setelah lulus sekian tahun dari sekolah, mereka dipertemukan kemudian. Jodoh memang tak lari kemana.
“Walah, walah. Kok ya membutuhkan bertahun-tahun, bahkan sampai lulus sekolah baru kalian bisa berpacaran seperti ini,” seru Sri dengan suaranya yang masih sama melengkingnya itu.
Gaya kenesnya masih sama, gaya bercandanya masih serupa. Hanya tubuhnya saja yang semakin berisi dan sepasang payudaranya semakin membesar.
Begitu kata Gatot, teman Bhanu sekelas, salah satu murid laki-laki yang jumlahnya hanya tiga itu.
Bhanu menahan tawanya setengah mati.
Prasetya tentu tidak dapat mendengar lelucon ini. Ia sibuk menerima perhatian penuh dari teman-teman yang kebanyakan bekas murid perempuan SPSA Hati Maria tersebut.
“Oalah, Bhanu, cowok ganteng se-SPSA angkatan ’66 dan bertahan sampai ’68 itu jatuh hati juga sama kamu tho, Pras. Tapi ya ndak heran, sih. Perempuan ayu dan lembut kayak kamu itu memang cocok sama Bhanu. Untung pacarannya sekarang, kalau pas sekolah dulu, udah cemburu aku,” seloroh teman perempuan Prasetya lainnya.
“Ah, berlebihan kamu,” balas Prasetya.
Sungguh, kalau pun memang berlebihan, Prasetya tidak keberatan Bhanu dikatakan sebagai cowok terganteng di SPSA angkatan ’66. Toh, tidak banyak murid laki-laki di sekolahnya waktu itu, kan?
Wajah Prasetya yang manis, lembut, tampak selalu riang itu memerah. Mudah bagi kulit kuning langsat untuk memamerkan sipu-sipu malu.
Teman-temannya tentu menggunakan ini untuk terus mencandai dan menggodanya.
Prasetya melirik ke arah Bhanu yang sedang berkumpul dengan teman-teman laki-lakinya. Dada Prasetya menggembung oleh rasa bangga, walaupun yang sebenarnya kental terasa adalah rasa tenang dan damai. Ini diberikan Bhanu pada Prasetya dengan penuh dan lengkap selama ini mereka berpacaran.
Bhanu, tidak pernah memperkarakan masalah-masalah sederhana. Meskipun memiliki kemampuan bercakap-cakap yang mumpuni, Bhanu cenderung sabar, tenang, dan tidak menggebu-gebu dalam bertindak-tanduk. Digabungkan dengan sifat Prasetya yang sejenis, setipe, hubungan mereka terasa bagai sepotong kue yang enak. Manisnya pas, tidak berlebihan, sehingga mudah saja untuk dilahap dan dihabiskan.