Nampaknya kita harus mundur lagi ke belakang, sedikit lebih jauh, sebelum kembali membahas kelanjutan hubungan Bhanu dan Prasetya serta rencana lamarannya tersebut. Dan, mohon maaf bila cerita ini harus melompat-lompat maju mundur, kadang menyelip di garis waktu. Tidak juga harus terlalu bingung merunut lini masa, karena memang begitu seharusnya kisah yang memerlukan keterlibatan jiwa dan bukannya sekadar urutan peristiwa belaka.
Yang jelas kita akan kembali beberapa bulan sebelum Bhanu memutuskan untuk meminang Prasetya.
Sugito pulang ke rumah setelah kurang lebih dua tahun di Irian Jaya.
Sugito selalu menjadi andalan Bhanu dari dulu.
Bhanu ingat sewaktu masih kecil, ia bersama teman-teman sebayanya sedang bermain bal-balan, sepakbola, dengan menggunakan bola buatan dari sabut kelapa yang ditumpuk-tupuk berlapis-lapis, diikat dengan tali rami. Tidak ada aturan khusus dalam permainan ini. Hanya gerombolan anak laki-laki yang rebutan menyepak bola, menjaga, atau merebutnya. Tidak ada kawan, semua lawan. Bahkan gawang pun tak ada.
Sore itu, datang dua orang remaja laki-laki yang secara umur maupun fisik lebih besar dibanding anak-anak kecil yang sedang bersenang-senang itu. Tanpa memerlukan alasan yang jelas, kesenangan anak laki-laki dalam bermain bal-balan itu ternyata sangat mengganggu dua orang remaja tersebut.
Dengan cepat dan mudahnya, salah satu diantara remaja itu merampas bola buatan itu dan menghancurkannya. Menginjak-injaknya, mencerai-beraikannya, bahkan membuang bagian-bagiannya yang sudah terlepas menjadi banyak bagian ke segala arah. Pendek kata, bola yang anak-anak kecil itu (termasuk Bhanu) buat dengan ketelatenan serta melibatkan jiwa mereka hancur berkeping-keping tanpa sisa.
Beberapa pulang menangis sembari diketawakan oleh kedua remaja yang akhirnya menemukan kebahagiaan dari kehancuran hati orang lain itu.
Bhanu juga pulang ke rumah dengan wajah murung dan kepala penat. Ia melaporkannya kepada Sugito.
Sugito yang sudah seusia para perundung adik dan teman-temannya itu tidak terima mendengar cerita adik laki-laki tersebut. Cuma, dia juga tidak cukup bodoh untuk menantang berkelahi secara langsung kedua remaja yang cukup ia kenal di desanya itu. Kemungkinan ia menang memang ada, tetapi lebih besar kemungkinan bahwa ia yang akan dihajar kedua lawannya secara keroyokan. Lagipula, tujuannya kini adalah membalas dendam, membuat kedua remaja laki-laki itu mendapatkan ganjaran atas apa yang sudah mereka perbuat.
Menjelang magrib hari itu pula, tanpa rencana nyata, Sugito mengajak Bhanu mengendap-ngendap mendatangi (mungkin lebih pada mengikuti) kedua remaja yang sudah mulai bosan karena tak ada lagi yang dapat mereka ganggu tersebut.
Tak dinyana, semesta memberikan kesempatan yang terbuka bagi Sugito. Kedua remaja yang diincar Sugito itu pergi ke satu sudut di sungai timur desa untuk buang air besar bersamaan, mungkin sudah janjian segala. Keduanya berjongkok berdampingan di sela bebatuan dengan air sungai yang mengalir dengan kecepatan sedang.
Di sinilah alam menjabarkan rencana yang harus dijalankan oleh Sugito.
Karena kedua remaja sasaran balas dendamnya itu harus berjongkok untuk buang hajat, seperti normalnya warga desa, mereka harus mencari posisi terbaik. Yaitu yang lebih dangkal dan aliran airnya tidak begitu deras. Sialnya, kotoran mereka tidak dengan mudah dihanyutkan arus dan harus berputar sejenak di sekitar mereka.
Sugito memandang ke arah Bhanu, “Lihat apa yang bakal aku lakukan kepada mereka, Nu.”
Sugito mengambil bongkahan batu kali yang besar, tetapi masih bisa untuk diangkat dan dilemparkan. Batu itu meluncur laju nan lancar ke tumpukan kotoran di aliran sungai yang berputar-putar di belakang kedua remaja itu. Kejatuhannya bagai bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.
Kotoran manusia itu kembali ke pemiliknya. Terlontar sedemikian rupa menghiasi punggung, bahkan kepala dua remaja laki-laki itu.