Bhanu seharusnya senang, semuanya seharusnya bahagia, tidak terkecuali Paklik Waluyo yang luar biasa sumringah, lebih bangga dibanding Bhanu atau siapa pun di muka bumi ini, ketika lamaran mereka diterima dengan baik oleh keluarga Prasetya.
Tidak ada drama yang terjadi di ruangan tamu keluarga Prasetya itu. Kedua tangan terbuka untuk menerima kehadiran Bhanu ke dalam keluarga mereka.
Sebenarnya pun belum ada rencana khusus ke depannya. Hari itu bukan pertunangan melainkan hanya sebuah izin restu sekaligus menjadi semacam pengikat awal hubungan keduanya.
Apa pun itu, sudah cukup bagi Prasetya untuk berbunga-bunga hatinya.
Harusnya seperti itu, bukan?
Bhanu memang sosok laki-laki yang tenang dan tidak neko-neko (itu yang membuat Prasetya kesengsem dengannya), tetapi ia tak sesederhana Prasetya. Malah sebenarnya harus diakui bahwa tidak ada hal sederhana yang ditimpakan ke bahu laki-laki oleh dunia. Meskipun itu sebabnya pula jangan kaget ketika ternyata hubungan Bhanu dan Prasetya terus saja berlanjut sampai bertahun-tahun kemudian.
***
Awal tahun 1974, terjadi peristiwa Malari (Malapetaka Limabelas Januari). Sebagai reaksi atas kunjungan kenegaraan Perdana Menteri Jepang, Kakuei Tanaka, mahasiswa melakukan demonstrasi besar-besaran memprotes ketidaksetaraan investasi asing beserta korupsi dan harga-harga barang kebutuhan yang menjulang tinggi. Negara meresponnya dengan keras. Kerusuhan itu mengakibatkan sebelas pengunjuk rasa tewas terbunuh dan ratusan mobil serta bangunan hancur.
Pemerintah Orde Baru di bawah Soeharto menggunakan kesempatan ini untuk menyemen kekuasaannya, menciptakan perubahan besar di dalam negeri. Berbagai tindakan represif dilakukan demi alasan reformasi ekonomi.
Gerakan mahasiswa semakin dibatasi, kontrol politik dan keamanan semakin diperketat, peran militer semakin diperkuat.
Bhanu, wong cilik yang bekerja di Balai Pembinaan Sosial Masyarakat Hati Maria saat itu mulai merasa bahwa nafasnya terengah-engah.
Usianya sudah dua puluh empat tahun. Bekerja bertahun-tahun tetapi pendapatannya tidak menanjak naik. Yang lebih parah, ia tidak merasa berada di dalam dunianya, pun tidak merasa di ‘rumah’.
Satu kenyataan yang mendadak menghajarnya di dalam pergeseran kehidupan sospolbud di negara yang hampir berusia dua puluh sembilan tahun itu adalah ketika ia tahu korupsi yang awalnya dijadikan topik demonstrasi mahasiswa itu sungguh nyata di dalam kehidupannya, tepat di depan hidung dan kedua matanya.
Untuk mengamankan masa depan yang lebih stabil di dalam kondisi politik yang serba tidak jelas ini, menjadi seorang pegawai negeri adalah pilihan yang masuk akal. Contoh Satrio, bapak Bhanu, sudah menunjukkannya.
Sialnya, agar berhasil direkrut menjadi seorang aparatur negara, ia ditawarkan untuk membayar Rp. 50.000.
Dengan pendapatannya saat itu yang berkisar seribuan rupiah saja, butuh waktu bertahun-tahun untuk mampu memberikan sogokan alias uang pelicin kepada aparatur negara tersebut. Selain keluarganya tak memiliki sawah lagi atau sapi dan ternak untuk dijual, kemungkinan itu jadi semakin jauh. Selain itu, hatinya yang peka itu mampu mengeyahkan pilihan apa pun untuk mencoba peruntungan yang dilandasi praktik korupsi tersebut.
“Kalau begini caranya, aku ndak akan bisa dapat kerja di Jogja, Paklik,” curhatnya kepada Paklik Waluyo.