Srengenge

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #10

Melakukan Hal Pengecut Pertamanya

Bhanu jelas bukan orang kaya, bukan keluarga priyayi walau kakeknya adalah seorang abdi dalem keraton. Namun, meski di masa ia kecil, semua orang miskin dan melarat, keluarganya cukup beruntung. Dihormati secara budaya dan sosial, dan secara ekonomi masuk ke dalam golongan miskin yang menengah, yang bukan miskin-miskin amat (meskipun sempat memiliki sebidang tanah. Semua orang melarat di masa itu).

Ketika ia sudah remaja, atap rumahnya sudah bergenting tanah liat. Tidak semua lantainya tanah. Di ruang tamu sudah bersemen. Begitu juga dindingnya yang berbata merah. Berbeda dengan banyak warga desa yang hanya mampu berdinding gedek, beratap daun pohon kelapa, dan seluruhnya berlantai tanah padat.

Cuma kalau mau dibandingkan dengan Prasetya, itu sudah keterlaluan. Seingat Bhanu, seluruh ruangan yang pernah ia lihat di rumah pacarnya itu sudah berpenerangan lampu listrik, bukannya sentir atau lentera minyak kelapa.

Sedangkan ke diri sendiri, seumur ini, Bhanu belum memiliki apa-apa. Bukannya berpikir rakus atau mau kaya, Bhanu hanya tahu diri.

Pertengahan tahun 1975, Bhanu akhirnya memutuskan pergi ke luar kota, merantau, meninggalkan tanah kelahirannya, sampai ke Kalimantan yang orang Jawa bilang alas gung liwang liwung[1], banyak kera, ular, dan buaya. Mungkin juga jin, hantu-hantu, serta raksasa yang bersembunyi di balik pepohonan.

Tahun itu pula pertama kali Bhanu melakukan hal pengecut pertamanya yang akan menghantuinya sampai bertahun-tahun kemudian.

Ia tidak mengatakan kepada siapa pun mengenai keputusan serta keberangkatannya tersebut. Tak pada kedua orang tuanya, tak kepada Paklik Waluyo, pun tak kepada sang kekasih hatinya, Prasetya.

 

***

 

Bhanu sudah bertempur dengan dirinya sendiri terlalu lama.

Ia tidak iri dengan Sugito yang pendidikannya diselesaikan penuh oleh kedua orang tuanya, yang keberangkatannya ke Irian Jaya dipestakan, yang perkawinannya dirayakan juga.

Sebaliknya, melalui Sugito, ia menemukan titik dimana ia berani mengambil keputusan besar.

Tidak persis seperti Sugito, namun Bhanu perlu serta ingin merasakan pengalaman dan keputusan kakangnya itu. Bagaimana pun Sugito selalu menjadi salah satu sosok utama yang ia jadikan contoh dan panutan.

Bedanya, setiap sisi keputusan Bhanu ini bertolak belakang dari apa yang terjadi dengan Sugito. Bukan hanya tidak dipestakan, Bhanu berangkat bahkan tanpa kabar, tanpa seorang pun yang tahu.

Tidak ada kontrak kerja di Balai Pembinaan Sosial Masyarakat Hati Maria, dan tentu saja tiada perjanjian tertulis pula dengan Pak Robi di kios koran dan majalahnya. Meskipun begitu, Bhanu tetap berusaha bertanggung jawab. Ia memastikan tidak memiliki jadwal khusus di Balai ketika ia berangkat. Kepada Pak Robi, ia meminta izin untuk tidak bekerja di hari itu pula.

Bhanu hanya membawa satu tas selempang berisi beberapa helai kemeja dan celana kerja. Sisanya lembar-lembar ijazah dan beberapa berkas penting lainnya.

Ia sudah mendapatkan informasi yang cukup tentang keberadaan Om Sunar di Pontianak. Ia sudah mendapatkan alamat lengkapnya, bahkan diam-diam sempat melayangkan surat untuk sekadar bertanya-tanya mengenai keadaan di tempat yang asing baginya itu.

 

***

 

“Mau kemana, Mas? Ayo, naik, naik.”

Lihat selengkapnya