Dada Bhanu berdegup kencang. Syukurnya meskipun adrenalin menghujam, ia tidak panik. Otaknya masih bisa berpikir dengan baik.
Ia terpaksa mengorbankan beberapa helai pakaian, celana, dan celana dalamnya di dalam tas yang ia bawa itu agar bisa keluar dari tempat terkutuk itu.
Karena ini pulalah ia melakukan hal mengejutkan lainnya yang sama sekali tidak terlintas di dalam pikirannya apalagi bagian dari rencananya sebelumnya.
Ada dua buah sepeda onthel yang diparkirkan di pekarangan depan kedua bangunan itu. Tidak ada kendaraan lain. Apalagi bus yang mereka gunakan untuk menumpuk para korbannya itu di penjara berbentuk dua bangunan rumah tersebut.
Bhanu mengambil sepeda yang paling kinclong, paling baru, paling bagus.
Sebelumnya, teori yang dibangun di dalam otaknya sederhana. Ia akan berbohong mengenai koper dan tas yang ia tinggal. Orang-orang itu tidak akan curiga Bhanu akan melarikan diri karena tidak membawa apa-apa selain tubuhnya sendiri (padahal, ijazah dan surat-surat pentinglah yang Bhanu perlukan). Bhanu pun tahu bahwa kedua sepeda onthel yang sudah ia lihat semenjak sampai di tempat itu tidak akan dikunci. Siapa yang benari mencuri sepeda para penjahat? Iya, kan?
Sepeda onthel itu ternyata masih baru. Harusnya harga aslinya bisa Rp. 10.000 sampai Rp. 12.000. Bhanu menjualnya cepat di Pasar Beringharjo, pusat terbesar dan paling ramai di Jogja. Rp. 8.000 langsung ada di tangan dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Sungguh, bukan ia yang menjual sawah bapaknya. Namun, ini, ialah yang menjual sepeda milik para penjahat dengan harga miring.
Bhanu ingat bahwa sepeda masih merupakan barang berharga bagi banyak orang. Mungkin tidak lagi terlalu mewah semewah motor atau Vespa (sebenarnya ini merek salah satu sepeda motor jenis skuter), apalgi mobil. Namun, menjualnya begitu saja dengan harga beberapa bulan gajinya tetap saja diam-diam membuat kaget Bhau sendiri. Ternyata, merantau, meninggalkan tanah kelahiran, selalu penuh dengan kejutan, dan pengorbanan.
Maka, lupakan kapal laut PELNI.
Bhanu berangkat dengan pesawat terbang!
Dengan uang penjualan sepeda itu, Bhanu membeli selembar tiket pesawat jenis Fokker F27 dari maskapai Garuda Indonesia ke Jakarta dan satu lembar tiket lagi untuk pesawat Pelita Air, anak perusahaan Pertamina, untuk terbang ke Pontianak. Mewah pada masanya. Bayangkan, keberangkatan pertama merantau ia sudah memutuskan menggunakan pesawat, bahkan sampai dua kali penerbangan.