Srengenge

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #12

Vivere Pericoloso

Bhanu kagum dengan sosok sang Proklamator sekaligus presiden pertama negeri ini, Ir. Sukarno. Secara khusus, Bhanu menggemari cara Bung Karno berpidato, menggebu-gebu, membakar semangat rakyat yang mendengarnya, sekaligus membeberkan rencana dan tujuan besar kenegaraannya.

Bhanu memperhatikan bahwa karisma sang pemimpin bangsa itu bukan dicitrakan dengan sembarangan atau tanpa alasan. Kemampuan linguistik dan keterampilan public speaking-nya sungguh di atas rata-rata.

Satu keunggulan yang mungkin tidak banyak dibahas orang, tetapi diperhatikan Bhanu, adalah bahwa Bung Karno senang sekali menciptakan istilah-istilah khusus. Entah itu sebagai bagian dari konsep kebangsaan, falsafah, atau misi tertentu.

Tahun 1964, Bhanu berusia 14 tahun. Ia mendengar Bung Karno berpidato di peringatan Hari Ulang Tahun Indonesia, 17 Agustus, yang berlangsung di Jakarta. Radio desa bersahut-sahutan dari rumah ke rumah, melemparkan gemuruh suara khas sang Presiden yang berapi-api.

“Gempuran imperialis kita layani, gonggongan anjing dan serigala tidak kita rewes. Kita tidak takut apa-apa! Jangan pun gonggongan anjing, suaranya geledek dari angkasa tidak membuat berdiri sehelai pun bulu roma kita!” begitu ujarnya.

“Kita ini satu bangsa tempe, ataukah satu bangsa banteng? Kalau kita satu bangsa yang berjung, kalau kita satu fighting nation, kalau kita satu bangsa banteng, dan bukan satu bangsa tempe, marilah kita berani nyrempet-nyrempet bahaya, berani ber-Vivere Pericoloso! Asal jangan kita Vivere Pericoloso kepada Tuhan! Hiduplah ber-Vivere Pericoloso di atas jalan yang dikehendaki oleh Tuhan dan diridhai oleh Tuhan,” lanjut Bung Karno lagi.

Bertahun-tahun kemudian, barulah Bhanu mulai memahami istilah Vivere Pericoloso yang digunakan Bung Karno untuk menjelaskan konsep hidup di dalam bahaya dalam bahasa Italia itu. Vivere berarti hidup, dan pericoloso berarti bahaya. Istilah yang diperkenalkan oleh sang presiden itu merujuk pada tahun penuh bahaya, the year of living dangerously, dimana tahun 1964 banyak terjadi konfrontasi serta kondisi dunia yang sedang dilanda masa subversif yang dianggap menghambat jalannya revolusi yang juga sedang marak-maraknya digaungkan oleh Sukarno.

Istilah-istilah di dalam bahasa Inggris, Belanda, juga Jawa, digunakan warna-warni serta dinamis untuk menyebut, merujuk, menjelaskan, dan memperkuat makna tertentu yang ingin ia sampaikan.

Bhanu sudah mendengar pidato Bung Karno berkali-kali ketika beliau mengunjungi Jogja dan menyampaikan amanahnya di kota itu. Di Alun-Alun Utara, manusia menumpuk, dengan khidmat mendengar raungan pidato Bung Karno dengan bahasa Jawa. Seorang multilinguis sejati, pengkhotbah yang ulung, kosakata bahawa Jawa pun dimainkan layaknya seorang dalang.

Lautan manusia yang padat merayap mencegah anak-anak kecil dan remaja untuk merengsek masuk ke alun-alun dan menyaksikan dengan lebih dekat Bung Karno di atas panggung.

Bhanu, bersama teman-teman desanya, memeluk batang-batang tiang yang di puncaknya terdapat corong pengeras suara[1] dan mendengarkan pidato-pidato Bung Karno bak hiburan rakyat.

Memang, dalam pidatonya di Jogja, Bung Karno seperti ahli kisah yang sedang bercerita. Menarik nan menghibur, sekaligus memuntahkan semangat yang menggila.

Ketika beranjak dewasa, mampu melihat dunia dalam beragam warna, Bhanu mulai memahami penting, perlu, dan harus adanya tokoh Sukarno itu. Negara ini begitu besar, begitu kaya, dan di saat yang sama begitu rumit untuk didefinisikan dan dipahami, apalagi diatur untuk mencapai kemajuan bersama. Diluar sikap dan sifatnya yang kontroversial dan penuh dengan sisi gelap, tetap saja Bung Karno istimewa. Pandangannya tentang tujuan, misi bangsa di masa itu, sebelum ia dipaksa lengser tahun 1967, bisa dipahami, terutama melihat kondisi sosial, budaya, dan politik negara ini di masa itu.

Impresi pertama atas tanah Kalimantan membuat Bhanu mengingat sosok presiden pertama Republik ini, apa-apa saja yang ia ucapkan, apa-apa saja yang sudah ia lakukan, dan bagaimana kenyataan sebenarnya.

Lihat selengkapnya